Peace Hunter

Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho

Peace Hunter

Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho

Translate to
Chapter 510: Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho

Pagi harinya, di halaman depan kediaman Duke San Lucia.

Terlihat sudah ada banyak orang yang berkumpul di halaman depan kediaman Duke San Lucia. Orang-orang yang berkumpul itu terdiri dari para prajurit, baik itu para prajurit yang akan tetap tinggal di kediaman Duke San Lucia dan para prajurit yang akan ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho. Semua prajurit itu terlihat sedang menyiapkan perbekalan yang terdiri dari senjata, logistik dan lain-lain. Ada dari mereka yang sedang menaruh perbekalan itu di dalam beberapa tas berukuran besar dan ada juga dari mereka yang mengangkut dan menaruh tas besar yang sudah diisi oleh perbekalan itu ke dalam kereta kuda yang dikhususkan untuk membawa barang-barang.

Tidak hanya para prajurit saja, para pelayan yang bekerja di kediaman Duke San Lucia juga ikut dalam menyiapkan semua perbekalan tersebut. Semua orang yang ada di halaman depan kediaman Duke San Lucia, terlihat sangat sibuk dengan tugas mereka masing-masing.

-

Sementara itu, di ruang kerja Duke Louis.

Terlihat Duke Louis, Duchess Arlet, komandan Asier dan komandan Ivana sedang berada di ruangan itu. Mereka berempat saat ini terlihat mengenakan seragam atau pakaian yang sama. Mereka berempat mengenakan pakaian seperti kemeja berlengan panjang dengan warna perpaduan putih dan biru muda. Untuk bawahan, mereka mengenakan celana panjang berwarna putih. Bahkan Duchess Arlet dan komandan Ivana yang merupakan wanita juga menggunakan celana panjang. Selain itu, mereka berempat saat ini juga mengenakan jubah tebal dan panjang berwarna biru muda.

Setelan pakaian yang mereka kenakan itu sepertinya merupakan pakaian atau seragam khusus yang dikenakan oleh para anggota keluarga San Lucia. Komandan Ivana yang biasanya mengenakan kimono bahkan hari ini juga mengenakan setelan yang sama dengan mereka bertiga. Selain itu, baik komandan Asier dan komandan Ivana yang biasanya mengenakan jubah komandan prajurit mereka, kali ini tidak menggunakannya. Saat ini, mereka berempat saat ini benar-benar terlihat seperti bangsawan meskipun aslinya mereka memang bangsawan.

"Yang terjadi kemarin memang sangat di luar dugaan. Aku harap hal tersebut tidak mempengaruhi kondisi kalian saat ini," ucap Duke Louis.

"Tenang saja, ayahanda. Meski aku sendiri juga tidak menyangka dengan apa yang terjadi kemarin tetapi saat ini kondisiku baik-baik saja. Aku siap untuk ikut dalam ekspedisi ini," ucap komandan Asier.

"Saya juga siap, tuan Louis," ucap komandan Ivana.

"Baiklah, karena kalian sudah siap, ayo kita pergi ke halaman sekarang," ucap Duke Louis.

"Iya," ucap komandan Asier dan komandan Ivana.

-

Di kamar Rid.

Aku saat ini sedang mengenakan pakaian yang diberikan oleh Duchess Arlet berikan semalam kepadaku. Duchess Arlet bilang dalam ekspedisi di pegunungan Orokho nanti aku harus mengenakan pakaian ini.

Setelah selesai mengenakan pakaian itu, aku lalu melihat pakaian yang aku kenakan dengan lebih teliti. Kemeja berlengan panjang dengan warna perpaduan biru muda dan putih serta bawahan celana panjang berwarna putih, seperti itulah pakaian yang sedang aku kenakan saat ini. Selain pakaian yang aku kenakan ini, Duchess Arlet juga memberikan aku jubah tebal dan panjang berwarna biru muda. Tetapi saat ini aku belum memakainya dan baru memakai pakaiannya saja. Jubah yang diberikan Duchess Arlet masih aku letakkan di tempat tidurku.

Setelah aku memperhatikan pakaianku, pintu kamarku tiba-tiba diketuk dari luar.

*tok *tok *tok

Aku tahu siapa yang mengetuk pintu kamarku karena aku telah merasakan aura orang itu. Orang itu adalah orang yang sangat aku kenal jadi setelah merasakan aura orang itu, aku langsung mempersilahkannya untuk masuk.

"Masuk saja, Irene," ucapku.

Setelah aku mengatakan itu, pintu kamarku pun terbuka. Kemudian, Irene yang telah berdiri di depan pintu kamarku pun langsung masuk ke dalam kamarku.

Saat Irene masuk ke dalam kamarku, aku cukup terpukau ketika melihatnya. Itu karena Irene saat ini juga mengenakan pakaian yang sama dengan yang aku kenakan. Selain itu, dia juga mengenakan jubah tebal dan panjang yang sama dengan yang diberikan Duchess Arlet kepadaku. Dengan pakaian dan jubah yang dikenakannya itu, Irene nampak lebih anggun dari dia yang biasanya, makanya aku cukup terpukau ketika melihatnya.

Lalu, setelah Irene masuk ke dalam ke kamarku, Irene tiba-tiba terdiam saat melihatku. Aku pun bingung kenapa Irene tiba-tiba terdiam saat melihatku jadi aku memutuskan untuk bertanya kepadanya.

"Ada apa, Irene?," tanyaku.

Setelah mendengar pertanyaanku, Irene yang sebelumnya terdiam langsung menjawab pertanyaanku.

"Tidak ada apa-apa. Hanya saja, kamu sangat cocok memakai pakaian keluarga San Lucia, Rid," ucap Irene.

Setelah mendengar perkataan Irene, aku jadi mengetahui kalau pakaian yang aku kenakan ini merupakan pakaian keluarga San Lucia. Aku pikir pakaian ini merupakan pakaian yang diberikan khusus untukku. Tetapi ternyata pakaian ini merupakan pakaian keluarga San Lucia, pantas saja Irene juga memakainya. Itu berarti tidak hanya Irene saja yang mengenakan pakaian ini, Duke Louis, Duchess Arlet dan anggota keluarga San Lucia lainnya juga akan mengenakan pakaian ini.

"Pakaian keluarga San Lucia? Aku baru mengetahuinya. Bibi Arlet sama sekali tidak memberitahuku soal ini, beliau hanya memberikan pakaian ini dan menyuruhku untuk memakainya. Padahal aku belum secara resmi bergabung dengan keluarga San Lucia, tetapi bibi Arlet malah memberikan pakaian ini kepadaku," ucapku.

"Itu berarti nona Duchess sudah mengakuimu sebagai anggota keluarga San Lucia meskipun kamu belum menikahi nona Irene, Rid," ucap Lily yang tiba-tiba ikut masuk ke dalam kamarku.

Tidak hanya Lily saja, Leandra pun juga ikut bersamanya.

"Lea, Lily," ucapku.

Leandra dan Lily juga mengenakan kemeja berlengan panjang, celana panjang serta jubah tebal dan panjang namun memiliki warna yang berbeda dengan yang aku dan Irene kenakan. Warga pakaian mereka mirip dengan warna seragam prajurit Duke San Lucia.

"Kalian berdua sudah siap ya?," tanya Irene.

"Iya, nona. Kami berdua sudah siap untuk ikut dalam ekspedisi nanti," ucap Leandra.

"Baiklah," ucap Irene.

"Berarti tinggal aku saja ya," ucapku.

Setelah aku mengatakan itu, aku lalu berjalan ke tempat tidurku dan mengambil jubah panjang yang ada di tempat tidurku itu. Setelah mengambil jubah panjang itu, aku lalu mengenakan jubah panjang itu.

Lalu, tak lupa juga aku mengambil pedang milikku dan kemudian aku taruh di pinggangku.

Setelah aku sudah bersiap, aku lalu berjalan menghampiri mereka bertiga.

"Karena semuanya sudah bersiap, ayo kita pergi ke halaman depan," ucapku.

"Iya," ucap Irene.

Setelah itu, kami berempat pun bergegas pergi ke halaman depan kediaman Duke San Lucia.

-

Di halaman depan kediaman Duke San Lucia.

Ketika kami baru saja sampai di halaman depan, aku melihat sudah ada banyak orang yang telah berkumpul di halaman depan. Mayoritas orang-orang yang sudah berkumpul itu adalah para prajurit yang akan ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho. Mereka sepertinya sudah siap untuk ikut dalam ekspedisi itu.

Selain para prajurit yang telah berkumpul di halaman depan, aku juga melihat Duke Louis, Duchess Arlet, komandan Asier dan komandan Ivana yang sedang memberi arahan kepada beberapa anggota keluarga San Lucia, para pelayan dan para prajurit yang telah berkumpul di halaman depan.

Aku kira mereka masih berada di ruangan mereka masing-masing, ternyata mereka sudah berada di halaman depan. Karena mereka sudah ada di halaman depan, aku memutuskan untuk menghampiri mereka. Aku juga mengajak Irene, Leandra dan Lily yang berjalan bersamaku untuk menghampiri mereka.

Saat kami sedang berjalan untuk menghampiri mereka, aku merasakan ada banyak tatapan yang diarahkan kepadaku. Tetapi aku tidak memperdulikannya karena tatapan yang aku rasakan itu bukanlah tatapan yang mengancam.

"Sepertinya hasil latih tanding kemarin masih membuatmu menjadi pusat perhatian sampai hari ini, Rid," ucap Leandra sambil melihat ke sekitar.

Sepertinya Leandra menyadari kalau semua orang yang ada di halaman depan saat ini sedang melihat ke arahku. Banyaknya tatapan yang aku rasakan itu adalah dari mereka. Aku sudah merasakan kalau mereka menatapku sejak aku baru tiba di halaman depan.

"Sudah pasti Rid akan menjadi pusat perhatian karena hasil latih tanding kemarin. Tidak hanya sampai hari ini saja, beberapa hari, bulan atau bahkan tahun ke depan, aku yakin Rid akan tetap menjadi pusat perhatian karena hasil latih tanding kemarin," ucap Lily.

Aku hanya diam saja tanpa menanggapi perkataan mereka. Aku hanya diam sambil terus melangkah menghampiri Duke Louis, Duchess Arlet dan lainnya.

Tidak lama kemudian, kami berempat pun tiba di tempat Duke Louis, Duchess Arlet dan yang lainnya berada.

"Akhirnya bintang utama kita tiba juga," ucap komandan Asier yang langsung berbicara kepadaku begitu aku tiba.

"Tolong jangan berbicara seperti itu, kak Asier," ucap komandan Asier.

"Yah soalnya semua orang yang ada di halaman ini saat ini sedang melihat ke arahmu, Rid. Jadi sudah jelas kamu saat ini adalah bintang utama," ucap komandan Asier.

"Sudah, Asier. Rid nanti akan merasa tidak nyaman," ucap Duke Louis.

"Ah benar, maafkan aku, Rid," ucap komandan Asier.

"Tidak apa-apa, kak Asier. Kak Asier tidak perlu minta maaf, lagipula aku tidak mempermasalahkannya," ucapku.

"*Haaahhh semua ini gara-gara latih tanding kemarin. Andai saja latih tanding kemarin diadakan tertutup tanpa dilihat oleh orang lain, tidak, bahkan andai kemarin tidak digelar latih tanding itu, kamu tidak akan menjadi pusat perhatian semua orang seperti ini," ucap Duchess Arlet yang tiba-tiba ikut dalam pembicaraan. ๐’‡๐™ง๐™š๐“ฎ๐”€๐“ฎ๐’ƒ๐™ฃ๐“ธ๐’—๐’†๐’.๐™˜๐’๐’Ž

"Tetapi nona Arlet, tanpa latih tanding kemarin pun Rid sudah menjadi pusat perhatian banyak orang. Apalagi berkat sepak terjangnya yang sering diberitakan di surat kabar," ucap komandan Ivana.

"Namun latih tanding kemarin semakin membuatnya menjadi pusat perhatian banyak orang, khususnya orang-orang di kediaman ini. Untungnya hasil latih tanding kemarin tidak disebarluaskan ke luar kediaman ini. Meskipun ada beberapa orang dari luar kediaman ini yang mengetahuinya, setidaknya mereka tidak akan membocorkannya ke publik. Jika hasil latih tanding kemarin disebarluaskan dan diketahui semua orang di kerajaan ini, entah apa yang akan terjadi nantinya," ucap Duchess Arlet.

Komandan Ivana pun terdiam setelah mendengar perkataan Duchess Arlet.

"Memang cukup disayangkan karena Rid menjadi pusat perhatian lagi akibat dari latih tanding itu. Rid mungkin akan merasa tidak nyaman karena telah menjadi pusat perhatian lagi. Tetapi berkat latih tanding itu, aku jadi semakin yakin kalau Rid dapat mengalahkan makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho itu,"

"Semua orang yang menyaksikan latih tanding itu pasti juga percaya dan yakin kalau Rid dapat mengalahkan makhluk itu dan menyelesaikan ekspedisi ini untuk selamanya," ucap Duke Louis.

Duchess Arlet pun terdiam setelah mendengar perkataan Duke Louis. Namun tidak lama kemudian, dia mulai berbicara lagi.

"Ya, kamu benar. Sebelum latih tanding itu, ketika kita pertama kali mengajak Rid untuk ikut dalam ekspedisi itu, aku sudah yakin kalau Rid bisa mengalahkan makhluk itu. Tetapi setelah melihat latih tanding itu, aku jadi semakin yakin kalau Rid dapat mengalahkan makhluk itu," ucap Duchess Arlet.

Setelah mengatakan itu, Duchess Arlet lalu menoleh dan melihat ke arahku.

"Rid, aku merasa malu karena harus mengatakan ini tetapi kamu merupakan harapan kami untuk dapat mengalahkan makhluk itu apabila kami tidak dapat mengalahkan makhluk itu sendiri. Maaf karena telah memberikan tanggung jawab yang besar kepadamu," ucap Duchess Arlet.

Aku pun langsung menanggapi perkataan Duchess Arlet.

"Tidak apa-apa, bibi Arlet. Sejak awal ketika aku diundang untuk ikut dalam ekspedisi ini, aku sudah menerima tanggung jawab ini. Jadi bibi Arlet tidak perlu minta maaf. Apabila bibi Arlet dan yang lainnya tidak bisa mengalahkan makhluk itu, aku yang akan mengalahkan makhluk itu," ucapku.

-

Beberapa menit kemudian,

Saat ini, Duke Louis dan Duchess Arlet sedang berdiri di hadapan orang-orang yang ikut dalam ekspedisi. Sebelumnya dimulainya ekspedisi di pegunungan Orokho, Duke Louis dan Duchess Arlet memutuskan untuk memberikan beberapa kata kepada orang-orang yang akan ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho jadi mereka berdua berdiri di hadapan orang-orang itu untuk mengatakan sesuatu.

"Selamat pagi, semuanya," ucap Duke Louis.

"Pagi, tuan Duke," ucap orang-orang yang ada di hadapan Duke Louis.

"Sebelum kita berangkat ke pegunungan Orokho untuk melakukan ekspedisi, izinkan aku untuk mengatakan beberapa kata,"

"Pertama, izinkan aku untuk mengucapkan terima kasih kepada kalian untuk bersedia ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho kali ini. Aku masih tidak menyangka kalau dari semua prajurit yang terpilih untuk ikut dalam ekspedisi, tidak ada satupun yang memilih untuk tidak ikut. Padahal kalian semua sudah diberitahu betapa berbahayanya ekspedisi di pegunungan Orokho, tetapi kalian masih tetap mau ikut. Aku benar-benar berterima kasih kepada kalian,"

"Kedua, kalian tentu sudah tahu betapa berbahayanya ekspedisi di pegunungan Orokho. Entah itu bahaya dari makhluk yang menjadi tujuan dari ekspedisi ini, naga-naga es ciptaannya, monster dan hewan buas yang tinggal di pegunungan Orokho atau medan dan suhu ekstrem di pegunungan Orokho. Jika nanti ada di antara kalian yang sudah tidak sanggup untuk melanjutkan ekspedisi, aku mengizinkan kalian untuk berhenti dan segera pergi meninggalkan pegunungan Orokho,"

"Lalu, jika nanti terjadi situasi atau kondisi yang sangat berbahaya, aku juga mengizinkan kalian untuk pergi menyelamatkan diri kalian masing-masing. Kalian, terutama para prajuritku yang memiliki tanggung jawab untuk melindungiku dan keluarga San Lucia tidak perlu untuk melindungi kami apabila situasi yang sangat berbahaya itu terjadi. Fokuslah untuk melindungi dan menyelamatkan diri kalian sendiri," ucap Duke Louis.

Para prajurit Duke San Lucia pun terdiam setelah mendengar perkataan Duke Louis. Namun tidak lama kemudian, komandan Mina yang merupakan komandan prajurit Duke San Lucia yang juga ikut dalam ekspedisi tiba-tiba menanggapi perkataan Duke Louis.

"Tetapi, tuan Duk-," ucap komandan Mina.

"Tidak ada tapi-tapi, Mina. Ini adalah perintah jadi kamu dan para prajuritmu harus menurutinya," ucap Duke Louis dengan suara tegas.

Komandan Mina terdiam sesaat setelah mendengar perkataan Duke Louis. Namun tidak lama kemudian, dia kembali menanggapi perkataan Duke Louis.

"Baik, tuan Duke," ucap komandan Mina.

"Terima kasih,"

"Itu saja yang ingin aku sampaikan. Terima kasih atas perhatian kalian semua dan mohon bantuannya dalam ekspedisi nanti. Mari kita selesaikan ekspedisi ini untuk selamanya dengan mengalahkan makhluk yang ada di pegunungan Orokho!," ucap Duke Louis dengan suara yang keras seperti sedang berorasi.

Semua orang yang ada di halaman depan kediaman Duke Louis pun langsung bersorak setelah mendengar perkataan Duke Louis. Mereka semua bersorak sebagai bentuk semangat sebelum menjalani ekspedisi di pegunungan Orokho. Mereka tahu kalau ekspedisi di pegunungan Orokho bukanlah ekspedisi yang mudah, melainkan sangat berbahaya, tetapi mereka memutuskan bersorak untuk meningkatkan keberanian mereka.

Setelah itu, karena Duke Louis dan Duchess Arlet sudah memberikan beberapa kata kepada orang-orang yang ikut dalam ekspedisi, Duke Louis kemudian langsung memerintahkan mereka semua untuk bersiap karena sebentar lagi mereka akan berangkat menuju pegunungan Orokho.

"Kalian semua bersiaplah karena sebentar lagi kita akan berangkat menuju pegunungan Orokho," ucap Duke Louis.

"Baik, tuan Duke," ucap orang-orang yang berada di halaman depan.

Setelah itu, mereka semua pun mulai bersiap. Beberapa dari mereka ada yang sedang memastikan apakah perlengkapan dan logistik yang mereka bawa sudah sesuai atau tidak.

Sementara itu, disaat ada beberapa dari mereka yang sedang memastikan perlengkapan dan logistik, ada juga beberapa dari mereka yang kini sedang saling berbincang. Mereka sepertinya telah mempersiapkan diri jadi mereka hanya tinggal menunggu waktu berangkat saja. Sambil menunggu, mereka pun saling berbincang.

"Sudah jelas tuan Duke ingin menjadikan ekspedisi kali ini sebagai ekspedisi yang terakhir karena banyak sekali prajurit yang ikut dalam ekspedisi kali ini. Selain itu, dalam ekspedisi kali ini juga banyak orang kuat yang ikut. Rid, putri Irene, nona Nadine, komandan Mina, komandan Asier, komandan Ivana, nona Duchess dan bahkan tuan Duke sendiri juga memutuskan ikut dalam ekspedisi kali ini. Tidak hanya mereka saja, beberapa anggota keluarga San Lucia juga ikut dalam ekspedisi kali ini,"

"Banyaknya orang yang ikut membuat ekspedisi kali ini tidak seperti ekspedisi pada umumnya. Daripada sebuah ekspedisi, ini lebih tepat disebut sebagai perang," ucap prajurit A.

"Kita memang ingin pergi berperang, yaitu berperang dengan makhluk penghuni pegunungan Orokho yang diceritakan oleh nona Duchess sebelumnya," ucap prajurit B.

"Dengan orang sebanyak ini, makhluk penghuni pegunungan Orokho itu pasti akan dapat dikalahkan kali ini," ucap prajurit C.

"Iya, apalagi Rid Archie juga ikut. Aku masih belum melupakan latih tanding antara dia melawan komandan Asier dan komandan Ivana yang terjadi kemarin. Dengan ikutnya dia, makhluk itu pasti akan dapat dikalahkan," ucap prajurit B.

-Bersambung

How did this chapter make you feel?

One tap helps us surface trending chapters and recommend titles you'll actually enjoy โ€” your vote shapes You may also like.