Peace Hunter
Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
Sekitar 30 menit kemudian, semua orang yang akan ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho pun telah bersiap. Mereka semua termasuk Duke Louis, Duchess Arlet, komandan Asier, komandan Ivana dan yang lainnya sudah berada di depan gerbang kediaman Duke Louis. Aku juga sudah berada di depan gerbang, bahkan aku sudah berada di dalam kereta kuda yang akan mengantar kami ke perbatasan pegunungan Orokho. Aku berada di dalam kereta kuda bersama senior Nadine, Irene, Leandra dan Lily.
Tidak hanya aku dan mereka saja yang pergi dengan menaiki kereta kuda, semua orang yang ikut dalam ekspedisi juga akan pergi menaiki kereta kuda menuju kaki pegunungan Orokho. Setelah sampai di kaki pegunungan, kami semua akan melanjutkan perjalanan menaiki pegunungan Orokho dengan berjalan kaki.
Di dalam kereta kuda yang aku tumpangi, aku, Irene, Leandra dan Lily sedang berbincang, sementara senior Nadine terlihat sedang melihat ke luar jendela. Aku penasaran dengan apa yang senior Nadine lihat. Karena aku juga duduk di samping jendela dan juga di depan senior Nadine, aku memutuskan untuk melihat keluar jendela untuk melihat apa yang senior Nadine lihat.
Saat aku melihat keluar jendela, aku melihat Duke Louis dan Duchess Arlet sedang berbicara dengan tuan Irwin di depan gerbang depan kediaman mereka. Tuan Irwin merupakan seorang Marquess daerah Armavir yang merupakan salah satu wilayah San Lucia dan juga merupakan ayah dari senior Nadine. Aku melihat tuan Irwin tidak sendirian. Beliau ditemani oleh seorang wanita cantik yang bernama nona Hima. Nona Hima merupakan ibunda dari senior Nadine.
Aku tidak tahu apa yang Duke Louis dan Duchess Arlet bicarakan dengan tuan Irwin dan nona Hima karena jarak kereta kuda yang aku naiki dengan gerbang depan cukup jauh. Tetapi aku bisa menebak kalau Duke Louis dan Duchess Arlet ingin berpamitan dengan tuan Irwin dan nona Hima serta meminta mereka berdua untuk berjaga di kediaman Duke Louis karena tuan Irwin dan nona Hima tidak ikut dalam ekspedisi ini.
-
Tepat di gerbang depan kediaman Duke Louis.
"Irwin, Hima, aku titipkan kediamanku kepada kalian," ucap Duke Louis.
"Baik, kakak," ucap tuan Irwin.
"Serahkan pada kami, kak Louis, kak Arlet. Kami titipkan juga putri kami kepada kalian berdua. Tolong jaga dan lindungi Nadine kami," ucap nona Hima.
"Iya, kami berjanji," ucap Duchess Arlet.
Setelah mereka saling berpamitan, Duke Louis dan Duchess Arlet pun mulai bersiap melangkah pergi meninggalkan gerbang depan kediaman mereka.
"Kalau begitu, kami pergi dulu," ucap Duke Louis.
"Iya, hati-hati, kakak," ucap tuan Irwin.
Duke Louis dan Duchess Arlet pun lalu mulai melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah mereka melangkah, Duke Louis tiba-tiba berhenti. Duke Louis lalu mulai berbicara kembali tanpa menoleh ke belakang, tepatnya ke tuan Irwin dan nona Hima sedikitpun.
"Irwin, jika terjadi kemungkinan terburuk dimana aku mati dalam ekspedisi kali ini, aku serahkan jabatan Duke San Lucia kepadamu," ucap Duke Louis.
Setelah Duke Louis selesai berbicara, kini giliran Duchess Arlet yang berbicara. Sama seperti Duke Louis, Duchess Arlet berbicara tanpa menoleh sedikitpun ke arah tuan Irwin dan Hima.
"Aku juga serahkan jabatan Duchess San Lucia kepadamu, Hima. Karena jika suamiku mati, aku tidak mungkin akan bisa tetap hidup. Aku akan ikut mati bersamanya," ucap Duchess Arlet.
Tuan Irwin dan nona Hima pun terkejut dengan apa yang dikatakan Duke Louis dan Duchess Arlet.
"Apa yang kalian berdua katakan!?," tanya tuan Irwin.
"Tolong jangan mengatakan hal seperti itu, kak Louis, kak Arlet. Jika kalian berdua mati, bagaimana dengan Asier dan Irene!?," tanya nona Hima.
"Asier sekarang sudah dewasa, jadi dia pasti tidak akan kenapa-kenapa. Lalu untuk Irene, dia saat ini sudah memiliki orang yang dicintainya. Jika kami berdua mati, orang itu yang akan menemani Irene," ucap Duchess Arlet.
"Tetapi tetap saja, tolong jangan berkata seperti itu," ucap tuan Irwin.
"Tenang saja, Irwin. Apa yang barusan aku katakan itu jika terjadi kemungkinan terburuk. Kami berdua tidak berniat untuk mati saat ini, tetapi kami juga tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Makanya kami membicarakan tentang hal itu," ucap Duke Louis.
Tuan Irwin dan nona Hima pun terdiam setelah mendengar perkataan Duke Louis.
"Kalian berdua tenang saja. Kami akan berusaha agar kemungkinan terburuk itu tidak terjadi. Justru kami akan berusaha keras agar kemungkinan terbaik lah yang terjadi," ucap Duchess Arlet.
"Kemungkinan terbaik?," tanya nona Hima yang terlihat sedikit bingung.
"Iya. Kemungkinan terbaiknya adalah kami semua kembali dengan selamat setelah berhasil mengalahkan makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho itu," ucap Duchess Arlet.
-
Beberapa menit kemudian,
Setelah Duke Louis dan Duchess Arlet selesai berbincang dengan tuan Irwin dan nona Hima, mereka berdua lalu berjalan menuju ke kereta kuda yang akan mereka tumpangi. Tidak lama kemudian, mereka pun telah menaiki kereta kuda tersebut. Kereta kuda yang mereka tumpangi tepat berada di depan kereta kuda yang aku, Irene, Leandra, Lily dan senior Nadine tumpangi. Kereta kuda yang mereka tumpangi itu sama dengan kereta kuda yang komandan Asier dan komandan Ivana tumpangi karena sebelumnya aku melihat mereka berdua menaiki kereta kuda itu lebih dulu sebelum Duke Louis dan Duchess Arlet.
Setelah menaiki kereta kuda tersebut, Duke Louis lalu memberi perintah untuk berangkat.
"Ayo kita berangkat," ucap Duke Louis.
Suara Duke Louis itu terdengar ke semua kereta kuda yang ada. Itu karena di masing-masing kereta kuda sudah diberikan sebuah alat sihir yang digunakan untuk menerima perintah dari Duke Louis. Alat sihir itu mirip dengan kristal komunikasi, yang membedakan adalah alat itu hanya digunakan untuk mendengar saja, tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan pihak lain.
Begitu perintah dari Duke Louis terdengar ke semua kereta kuda, satu persatu kereta kuda yang berkumpul di gerbang depan kediaman Duke Louis pun mulai bergerak meninggalkan gerbang depan.
Untuk menuju ke pegunungan Orokho yang berada di sebelah utara kota San Lucia, tentu kami harus menyusuri jalanan kota San Lucia terlebih dahulu. Saat kami sedang menyusuri jalanan kota, terlihat banyak warga kota San Lucia yang berdiri di pinggir jalan untuk melihat kami yang ingin pergi ekspedisi ke pegunungan Orokho. Beberapa dari mereka bahkan menyemangati kami.
"Tolong kalahkan naga es yang ada di pegunungan Orokho itu, tuan Duke,"
"Kalahkan naga es itu dan ubah kembali cuaca dan iklim di wilayah San Lucia ini," ucap orang-orang yang menyemangati kami.
Dari perkataan mereka, mereka sepertinya sudah tahu kalau hari ini keluarga San Lucia akan melakukan ekspedisi kembali di pegunungan Orokho. Mungkin Duke Louis dan Duchess Arlet sendiri yang memberitahu mereka. Namun, tampaknya mereka masih belum tahu kalau yang akan kami lawan itu sebenarnya bukan sosok naga es. Tetapi memang lebih baik untuk tidak memberitahu sosok apa yang sebenarnya akan kami lawan nanti di pegunungan Orokho. Jika mereka tahu, akan terjadi kehebohan dan kepanikan di kota ini.
Lalu, tidak lama kemudian, kami pun telah tiba di bagian utara kota San Lucia. Di bagian utara kota adalah sebuah hutan kecil yang biasanya aku gunakan sebagai jalan menuju perbatasan pegunungan Orokho. Tetapi hutan itu tidak bisa dilewati oleh kereta kuda, jadi kami tidak bisa menuju pegunungan Orokho lewat hutan ini. Namun, di ujung kiri dari hutan ini, atau lebih tepatnya di sebelah barat laut kota San Lucia, ada sebuah jalan terbengkalai yang menjadi penghubung ke pegunungan Orokho. Jalan itu yang akan kami lalui untuk menuju ke pegunungan Orokho.
Aku tahu tentang jalan ini beberapa hari setelah pertama kali aku berlatih di perbatasan pegunungan Orokho. Jalanan itu dulunya memang digunakan untuk akses menuju pegunungan Orokho ketika pegunungan Orokho belum menjadi pegunungan es seperti sekarang ini. Karena sekarang pegunungan Orokho telah menjadi pegunungan es, jalanan itu pun menjadi terbengkalai karena sudah tidak ada lagi orang yang berani pergi ke pegunungan Orokho. Meski saat ini sudah terbengkalai, jalanan itu masih dijaga oleh para prajurit Storm Leopard setiap harinya untuk mencegah adanya monster atau hewan buas dari pegunungan Orokho yang datang ke kota San Lucia lewat jalan itu.
Beberapa menit kemudian, kami pun sampai di jalan itu. Kami lalu terus menyusuri jalan itu untuk menuju ke pegunungan Orokho. Namun, baru beberapa saat kami menyusuri jalan itu, tiba-tiba Duke Louis memberi perintah lewat alat sihir.
"Berhenti sebentar," ucap Duke Louis.
Seluruh kereta kuda yang mendengar perintah itu pun langsung berhenti. Perintah dari Duke Louis itu membuatku bingung. Tidak hanya aku saja, aku melihat Irene, Leandra, Lily dan senior Nadine juga merasa bingung dengan perintah Duke Louis yang memerintahkan untuk berhenti. Aku yakin semua prajurit di tiap kereta kuda juga bingung dengan hal itu.
Karena bingung dan penasaran dengan apa yang terjadi, aku memutuskan untuk membuka jendela kereta kuda yang aku tumpangi dan melihat ke luar. Setelah melihat ke luar, aku mengarahkan pandanganku ke depan kereta kuda yang aku tumpangi. Di samping kereta kuda nomor 2 dari depan, aku melihat ada beberapa orang yang sedang berdiri. Orang-orang yang berdiri itu mengenakan seragam prajurit Storm Leopard. Di antara orang-orang itu, 2 di antaranya merupakan orang yang aku kenal. 2 orang itu merupakan komandan Allister dan wakil komandan Agneta.
Setelah itu, aku melihat 2 orang keluar dari kereta kuda nomor 2 dari depan itu, 2 orang itu adalah Duke Louis dan Duchess Arlet. Terjawab sudah alasan kenapa Duke Louis memberi perintah untuk berhenti, ternyata ada komandan Allister dan wakil komandan Agneta yang ingin menemuinya. Mungkin komandan Allister dan wakil komandan Agneta ingin memberi semangat dan dukungan kepada kami yang ingin melakukan ekspedisi di pegunungan Orokho. Tadinya aku kira ada situasi berbahaya yang terjadi, makanya Duke Louis memerintahkan untuk berhenti.
Karena rasa penasaranku sudah terjawab, aku memutuskan untuk berhenti melihat ke luar dan duduk santai di dalam kereta kuda seperti sebelumnya. Irene yang melihatku sudah duduk santai setelah melihat ke luar lalu bertanya kepadaku tentang apa yang terjadi di luar.
"Apa ada sesuatu yang terjadi di luar sehingga ayahanda memerintahkan untuk berhenti, Rid?," tanya Irene.
"Tidak ada sesuatu yang terjadi, Irene. Hanya saja, ada komandan Allister dan wakil komandan Agneta yang saat ini sedang menemui dan berbincang dengan paman Louis dan bibi Arlet," ucapku.
"Begitu ya," ucap Irene.
-
Sementara itu, di sisi Duke Louis dan Duchess Arlet.
"Tuan Duke, nona Duchess. Maaf karena tidak bisa membantu dengan ikut secara langsung," ucap komandan Allister.
"Sudah saya bilang untuk berhenti meminta maaf, komandan. Sebelumnya anda sudah meminta maaf karena tidak bisa ikut, sekarang pun anda meminta maaf lagi," ucap Duke Louis.
"Itu benar. Anda tidak perlu minta maaf terus, komandan. Lagipula sudah ada Asier dan Ivana yang ikut. Terlalu berlebihan apabila anda yang juga merupakan komandan prajurit malah ikut juga. Saya nanti jadi merasa tidak enak dengan Yang Mulia Ratu. Tetapi, meskipun anda tidak ikut, anda sudah membantu kami dengan mengirim beberapa prajurit milik anda," ucap Duchess Arlet.
"Bantuan yang saya berikan itu tidak seberapa, nona Duchess. Lagipula yang saya kirimkan hanya 40-an prajurit saja. Kalau bisa, saya ingin mengirim semua prajurit untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho," ucap komandan Allister.
"Jika anda mengirim semua prajurit untuk ikut, siapa yang akan menjaga wilayah San Lucia?," tanya Duke Louis sambil tersenyum.
"Anda benar juga. Tidak mungkin saya menjaga keseluruhan wilayah San Lucia seorang diri," ucap komandan Allister.
Kemudian, mereka pun saling tertawa.
"Ya sudah, itu saja yang ingin saya bicarakan dengan kalian, tuan Duke, nona Duchess. Maaf karena telah menyita waktu kalian yang sedang buru-buru untuk pergi ke pegunungan Orokho," ucap komandan Allister.
"Tidak apa-apa. Ya sudah, kalau begitu kami kembali ke dalam dulu. Sampai nanti, komandan," ucap Duke Louis.
"Iya. Sampai nanti, tuan Duke," ucap komandan Allister.
Setelah itu, Duke Louis dan Duchess Arlet pun masuk kembali ke kereta kuda yang mereka tumpangi. Ketika Duke Louis dan Duchess Arlet sudah kembali masuk ke kerta kuda yang mereka tumpangi dan mau menutup pintu kereta kuda itu, komandan Allister tiba-tiba berbicara lagi.
"Tuan Duke, nona Duchess, tolong berhati-hatilah. Selain itu, kalian berdua fokus saja untuk mengalahkan makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho itu. Kalian berdua jangan khawatirkan wilayah San Lucia khususnya kota San Lucia karena saya dan para prajurit saya akan menjaga dan melindungi kota dan wilayah San Lucia disaat kalian sedang berada di pegunungan Orokho," ucap komandan Allister.
Duke Louis dan Duchess Arlet yang mendengar perkataan komandan Allister pun langsung menoleh ke komandan Allister.
"Iya. Saya serahkan kota dan wilayah San Lucia kepada anda, komandan," ucap Duke Louis.
"Serahkan saja pada saya, tuan Duke," ucap komandan Allister.
Setelah mengatakan itu, komandan Allister secara tidak sengaja melihat ke dalam kereta kuda yang ditumpangi Duke Louis dan Duchess Arlet yang pintunya masih terbuka. Di dalam kereta kuda itu, komandan Allister melihat komandan Asier dan komandan Ivana yang juga sedang melihat ke arahnya.
"Asier, Ivana, kalian juga tolong kalahkan makhluk itu. Kalian berdua merupakan komandan prajurit kerajaan San Fulgen. Tidak mungkin kalian akan kalah dari makhluk itu kan?," tanya komandan Allister.
Komandan Allister dan komandan Ivana pun langsung menjawabnya.
"Iya, tentu saja. Kami akan mengalahkan makhluk itu," ucap komandan Asier.
"Itu benar," ucap komandan Ivana.
Komandan Asier dan komandan Ivana memasang ekspresi yang serius saat mengatakan hal itu. Komandan Allister pun langsung tersenyum setelah mendengar jawaban mereka berdua.
"Bagus," ucap komandan Allister.
Sementara Duke Louis dan Duchess Arlet hanya tersenyum saja ketika melihat interaksi antara 3 komandan prajurit San Fulgen. Setelah itu, karena dirasa sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, Duke Louis dan Duchess Arlet pun pamit kepada komandan Allister.
"Kalau begitu kami pergi dulu," ucap Duke Louis.
"Iya. Hati-hati, tuan Duke," ucap komandan Allister.
Setelah itu, pintu kereta kuda yang Duke Louis dan Duchess Arlet tumpangi pun kembali ditutup setelah Duke Louis dan Duchess Arlet sudah masuk kembali. Kemudian, Duke Louis pun kembali memberi perintah lewat alat sihir.
"Ayo kita jalan lagi," ucap Duke Louis.
Seluruh kereta kuda yang mendengar perintah Duke Louis pun mulai bergerak kembali. Kereta kuda yang ditumpangi Duke Louis dan Duchess Arlet pun kini telah bergerak meninggalkan komandan Allister, wakil komandan Agneta dan beberapa prajurit Storm Leopard yang masih berdiri di pinggir jalan. Satu persatu kereta kuda yang berada di belakang kereta kuda yang ditumpangi Duke Louis dan Duchess Arlet pun mulai bergerak melewati komandan Allister. Sampai akhirnya kini giliran kereta kuda yang aku tumpangi yang bergerak melewati komandan Allister.
Ketika kereta kuda yang aku tumpangi melewati komandan Allister. Aku yang kebetulan sedang melihat keluar jendela pun jadi ikut melihat komandan Allister. Tidak hanya aku saja yang melihat komandan Allister, komandan Allister juga melihatku ketika kereta kuda yang aku tumpangi melewatinya. Saat melihat komandan Allister, aku sedikit membungkukkan kepalaku sebagai tanda hormat. Komandan Allister yang melihatku pun langsung mengangguk tanda mengerti dengan sikapku itu.
Aku dan komandan Allister sudah beberapa kali bertemu sejak aku tinggal di kediaman Duke Louis. Entah itu di kediaman Duke Louis, kota San Lucia atau perbatasan pegunungan Orokho ketika aku sedang berlatih. Karena itu, aku cukup mengenalnya dan terkadang sedikit mengobrol dengannya ketika bertemu. Makanya komandan Allister langsung paham ketika melihat sikapku.
Lalu, setelah kereta kuda yang aku tumpangi telat melewati komandan Allister, kereta kudaku terus melaju mengikuti kereta kuda yang di depannya untuk menuju ke pegunungan Orokho.
-
Sementara itu di dalam kereta kuda yang Duke Louis dan Duchess Arlet tumpangi.
"Aku tidak menyangka kalau tuan Allister yang dulunya sombong dan arogan akan menjadi orang yang tenang seperti ini. Sepertinya kehilangan tangan kanan sangat berpengaruh pada perubahan sikapnya," ucap komandan Asier.
"Bukankah itu bagus? Setidaknya ketika terjadi pertemuan antar komandan prajurit, aku tidak harus berdebat lagi dengannya. Aku suka sikap tuan Allister yang sekarang," ucap komandan Ivana.
"Ngomong-ngomong soal berdebat, aku jadi ingat saat pertemuan antar komandan prajurit yang saat itu Violetta baru pertama kali ikut. Kamu dan tuan Allister berdebat hebat saat itu dan bahkan kalian berdua sampai hampir bertarung. Untungnya Yang Mulia Ratu bergerak lebih cepat untuk menghentikan kalian," ucap komandan Asier.
"Tolong jangan ingatkanku tentang hal itu lagi," ucap komandan Ivana.
-
Sementara itu, di pinggir jalan tempat komandan Allister berada.
Komandan Allister, wakil komandan Agneta dan beberapa prajurit Storm Leopard terlihat masih berada di pinggir jalan itu sambil melihat kereta kuda di barisan terakhir yang sudah bergerak melewati mereka.
"Komandan. Menurut komandan, apakah dalam ekspedisi kali ini, keluarga San Lucia bisa mengalahkan ’makhluk’ itu?," tanya wakil komandan Agneta.
"Dengan ikutnya tuan Duke, nona Duchess, Asier dan Ivana, kemungkinan besar mereka bisa mengalahkan ’makhluk’ itu. Itu karena mereka berempat merupakan anggota keluarga San Lucia terkuat saat ini. Apalagi, Rid Archie juga ikut kali ini,".
"Jika informasi yang aku dapatkan kemarin itu benar, Rid Archie mungkin akan menjadi orang yang mengalahkan ’makhluk itu," ucap komandan Allister.
Setelah mengatakan itu, komandan Allister terus melihat ke arah rombongan kereta kuda yang terus melaju menuju ke pegunungan Orokho.
"Aku serahkan padamu, Rid Archie," pikir komandan Allister.
-
Rombongan kereta kuda pasukan ekspedisi terus melaju di jalan penghubung menuju pegunungan Orokho. Semakin dekat kereta kuda itu dengan pegunungan Orokho, salju yang turun pun semakin lebat. Udaranya pun juga semakin dingin. Saat ini aku masih belum merasakannya karena aku tahu kalau rombongan kereta kuda ini masih berada di perbatasan pegunungan Orokho. Itu karena pemandangan di sekitar yang aku lihat dari jendela kereta kuda merupakan pemandangan yang sama yang sering aku lihat ketika aku berlatih di perbatasan. Jadi aku tahu kalau saat ini kami masih berada di perbatasan.
Aku tidak merasakan udaranya semakin dingin karena aku sudah sering kesini, jadi aku sudah terbiasa. Aku bisa mengetahui kalau udaranya semakin dingin karena Leandra dan Lily terlihat semakin kedinginan. Mereka berdua sudah mulai kedinginan sejak kami pertama kali tiba di wilayah perbatasan dan kini mereka semakin kedinginan seiring kami yang sudah semakin dekat dengan pegunungan Orokho.
-
Beberapa menit kemudian, Duke Louis tiba-tiba kembali memberi perintah lewat alat sihir.
"Berhenti, kita sudah sampai," ucap Duke Louis.
Semua kereta kuda yang mendengar perintah itu pun langsung berhenti.
"Kalian semua, keluarlah. Mulai sekarang, kita akan lanjutkan ekspedisi dengan berjalan kaki," ucap Duke Louis.
Setelah mendengar perintah Duke Louis, semua orang yang menaiki kereta kuda pun mulai keluar dari kereta kuda yang mereka tumpangi. Setelah mereka keluar, sebagian besar dari mereka terlihat terkejut dengan pemandangan yang mereka lihat. Sebuah pegunungan tinggi yang diselimuti salju yang biasanya mereka lihat dari jauh, kini tepat berada di depan mereka. Lalu, hujan salju lebat yang terus turun di tempat kami berada, serta udara dingin yang sangat menusuk tubuh. Dengan pemandangan dan fenomena yang kami rasakan itu, bisa dipastikan kalau saat ini kami telah berada di kaki pegunungan Orokho.
"Jadi ini pegunungan Orokho," ucapku sambil melihat ke pegunungan salju yang tepat di depanku.
-
Sementara itu, di sebuah gua yang berada di pegunungan Orokho.
Sosok wanita berwujud humanoid Naga es yang awalnya sedang tertidur di kursi singgasananya secara perlahan mulai membuka kedua matanya.
-Bersambung