Peace Hunter
Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2
Setelah mengalahkan beberapa naga es itu, Duchess Arlet kembali bergerak untuk melawan beberapa naga es yang masih tersisa.
Sementara itu, Irene terlihat sedikit takjub ketika melihat aksi ibundanya itu.
"Ini pertama kalinya kamu melihat ibundamu dalam pertarungan sungguhan ya, Irene?," tanya Duke Louis secara tiba-tiba.
Irene awalnya sedikit terkejut tetapi kemudian dia menyadari mungkin ayahandanya itu tadi sedang memperhatikannya yang sedang melihat aksi ibundanya.
"Tidak, ayahanda. Sebelumnya aku pernah melihat ibunda ketika bertarung melawan orang-orang yang berubah menjadi iblis di akademi. Hanya saja saat itu ibunda tidak terlihat bertarung dengan serius. Aku belum pernah melihat ibunda bertarung dengan serius. Bahkan ketika latih tanding denganku, ibunda juga terlihat tidak serius melawanku," ucap Irene.
"Kali ini pun ibundamu juga belum mengeluarkan semua kemampuannya, Irene. Para naga es itu yang merupakan naga es yang terbuat dari sihir bukanlah tandingan ibundamu. Ibundamu mungkin akan mengeluarkan semua kemampuannya saat kita melawan ’makhluk itu’, sang pemimpin Roh es," ucap Duke Louis.
"Tidak hanya ibunda saja, ayahanda. Semua orang yang ada disini pasti akan mengeluarkan semua kemampuannya untuk mengalahkan makhluk itu," ucap Irene.
"Iya, kamu benar. Aku sendiri juga akan mengeluarkan semua kemampuanku," ucap Duke Louis.
Setelah Duke Louis mengatakan itu, beberapa naga es terlihat menghampiri ke tempat Duke Louis dan Irene berada. Duke Louis yang menyadari itu pun bersiap untuk bertarung kembali.
"Obrolannya kita akhiri sampai sini saja, Irene. Kita harus mengurus mereka terlebih dahulu," ucap Duke Louis.
"Ayahanda benar," ucap Irene yang sudah bersiap untuk bertarung.
Setelah itu, beberapa naga es itu lalu melancarkan serangan kepada Irene dan Duke Louis, tetapi Irene dan Duke Louis dengan mudah menghindari dan menahan serangan beberapa naga es itu.
"Jumlah mereka cukup banyak. Aku bisa saja mengalahkan mereka sekaligus tetapi aku harus menunggu momen yang tepat," ucap Duke Louis.
"Kapan momen yang tepat itu, ayahanda?," tanya Irene.
"Saat mereka semua berkumpul di satu tempat, sedangkan saat ini mereka masih tersebar di kanan, kiri, depan dan belakang kita," ucap Duke Louis.
"Kalau begitu biar aku yang menjadi umpan agar mereka bisa berkumpul di satu tempat," ucap Irene.
Duke Louis pun terkejut setelah mendengar perkataan Irene.
"Apa? Kamu mau menjadi umpan?," tanya Duke Louis.
"Iya, ayahanda," ucap Irene.
"Tidak, bagaimana mungkin seorang ayah memerintahkan anaknya sendiri untuk menjadi umpan. Aku tidak bisa melakukannya," ucap Duke Louis.
"Ayahanda tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja. Lagipula hal ini diperlukan agar ayahanda bisa mengalahkan mereka sekaligus. Apa ayahanda ingin kita mengalahkan mereka satu persatu saja meskipun hal itu memakan waktu yang lebih lama?," tanya Irene.
Duke Louis pun terdiam sesaat setelah mendengar perkataan Irene. Namun tidak lama kemudian, dia mulai berbicara kembali.
"Baiklah, ayo kita lakukan, Irene. Kamu yang menjadi umpan, aku yang akan mengalahkan mereka sekaligus," ucap Duke Louis yang akhirnya menyetujui agar Irene menjadi umpan.
Kemudian, Irene pun menanggapi perkataan Duke Louis.
"Baik, ayahanda," ucap Irene.
Setelah itu, Irene melesat mendekati beberapa naga es itu satu persatu lalu menyerang mereka dengan rapier dan sihirnya. Irene menyerang beberapa naga itu dengan serangan biasa, bukan serangan yang kuat. Tujuannya agar beberapa naga yang diserang oleh Irene itu memilih untuk menargetkan Irene, lagipula memang itulah tujuannya yaitu untuk menjadi umpan. Setiap naga es di sekitarnya yang masih belum menargetkan dirinya langsung Irene dekati dan menyerang naga es itu agar naga es itu menargetkan dirinya. Irene terus melakukan hal itu sampai semua naga di sekitarnya menargetkan dirinya.
Sementara itu, disaat beberapa naga es itu sedang terfokus dengan Irene, Duke Louis yang saat ini sedang dalam kondisi aman karena tidak ada naga es yang mengincarnya terlihat sedang mengangkat pedangnya ke atas dengan tangan kanannya sambil melafalkan sebuah mantra.
"Kepingan salju abadi, turunlah,"
"Hancurkan lawanku dalam hujan kepingan tajam menyelimuti,"
"Hingga tiada daya, tunduk dan hening."
Setelah Duke Louis selesai melafalkan mantra, Duke Louis melihat beberapa naga es yang menargetkan Irene sudah berkumpul di satu tempat, mereka tidak tersebar lagi seperti sebelumnya. Melihat itu, Duke Louis pun langsung memerintahkan Irene untuk menghindar karena dia akan melancarkan sihir kepada beberapa naga es itu.
"Irene, menjauhlah sedikit dari tempatmu berada saat ini," ucap Duke Louis.
"Baik, ayahanda," ucap Irene.
Irene pun kemudian langsung pergi melesat untuk menjauh dari tempatnya saat ini. Tepat saat Irene sudah melesat pergi, Duke Louis pun langsung melancarkan sihirnya.
~Ice Magic : Rain of Snowflakes~
Setelah Duke Louis melancarkan sihirnya itu, kepingan salju dalam jumlah yang sangat banyak tiba-tiba berjatuhan dari atas tempat beberapa naga es itu berada. Sebagian besar orang yang ada di dekat tempat itu terkejut ketika melihat munculnya kepingan-kepingan salju yang turun itu, sementara sisanya terlihat sedang fokus melawan para naga es yang masih tersisa.
Lalu, kepingan salju yang berjatuhan itu pun langsung mengenai tubuh beberapa naga es itu. Ketika kepingan salju itu mengenai bagian tubuh dari beberapa naga salju itu, bagian tubuh mereka tiba-tiba hancur seketika. Padahal yang menghujani mereka terlihat hanyalah kepingan-kepingan salju biasa, namun nyatanya setiap kepingan salju itu memiliki bobot yang sangat berat sehingga mampu menghancurkan bagian tubuh dari naga es itu yang dikenainya.
Kepingan-kepingan salju itu terus berjatuhan selama kurang lebih 5 menit. Debu asap berwarna putih pun bermunculan dan semakin tebal seiring kepingan-kelingan salju itu terus menghujani tempat itu. Setelah itu, kepingan salju itu pun berhenti menghujani tempat itu. Hanya saja, debu asap efek dari kepingan salju yang menghujani tempat itu saat ini masih belum hilang. Debu asap itu masih cukup tebal dan pekat.
Namun seiring waktu, debu asap itu pun perlahan mulai menghilang. Setelah debu asap itu menghilang, terlihat jelas kondisi di tempat itu setelah kepingan-kepingan salju menghujani tempat itu. Terlihat beberapa naga es yang sebelumnya menargetkan Irene kini sudah dikalahkan semuanya. Tubuh mereka semua sudah sepenuhnya hancur karena dihujani oleh kepingan-kepingan salju yang tercipta dari sihir Duke Louis.
Sebagian besar orang yang ada di dekat tempat itu kembali terkejut setelah melihat beberapa naga itu telah hancur oleh sihir Duke Louis. Irene pun juga terlihat sedikit terkejut ketika melihat kondisi beberapa naga es itu.
"Aku tidak menyangka beberapa naga es itu langsung hancur setelah terkena 1 serangan sihir milik ayahanda. Tetapi mengingat posisi ayahanda sebagai seorang Duke, wajar kalau ayahanda sekuat ini. Mungkin lain kali aku akan mencoba untuk latih tanding dengannya jika ayahanda tidak sibuk," pikir Irene.
Setelah memikirkan itu, Irene lalu berbalik untuk menghampiri Duke Louis. Tetapi ketika Irene berbalik, Irene melihat ada 4 ekor naga es yang berada di belakang Duke Louis. Duke Louis terlihat belum menyadari ada 4 ekor naga es di belakangnya. Melihat hal itu, Irene tiba-tiba langsung melesat dengan cepat ke arah Duke Louis.
"Ayahanda, menunduk!," ucap Irene sambil melesat ke arah Duke Louis.
Duke Louis tidak tahu kenapa Irene menyuruhnya untuk menunduk, tetapi meski begitu Duke Louis tetap menurutinya. Duke Louis pun langsung menunduk, sementara Irene terlihat bersiap untuk melancarkan sebuah serangan dengan raipernya. Setelah Irene sudah berada di depan Duke Louis yang sedang menunduk, Irene lalu melancarkan serangan kepada 4 naga es yang terlihat sudah ingin menyerang Duke Louis.
~San Lucia Art Secret Technique : Rain of Snowflakes - Death Slash~
Kepingan-kepingan salju tiba-tiba bermunculan tepat sebelum Irene melancarkan serangannya itu. Kepingan-kepingan salju itu bermunculan dan menempel di beberapa anggota tubuh 4 naga es itu seperti di kepala, tangan, kaki, badan, sayap dan lain-lain. Kemudian, Irene pun melancarkan serangannya itu kepada 4 naga es itu. Setelah Irene melancarkan serangannya itu, anggota tubuh dari 4 naga es yang tertempel oleh kepingan-kepingan salju itu tiba-tiba langsung terpotong. Semua anggota tubuh 4 naga es yang tertempel oleh kepingan-kepingan salju itu terpotong tanpa terkecuali. 4 naga es itu pun langsung tumbang dengan anggota tubuh yang telah terpotong-potong.
Beberapa prajurit yang ada di sekitar tempat itu terlihat terkejut ketika melihat Irene berhasil mengalahkan 4 naga es itu dengan 1 serangan. Sementara Irene, setelah berhasil mengalahkan 4 naga es itu, dia lalu memegangi tubuh Duke Louis yang berada di depannya.
"Ayahanda tidak apa-apa?," tanya Irene yang terlihat sedikit cemas.
Duke Louis yang awalnya masih menunduk secara perlahan mulai berdiri tegap kembali. Setelah kembali berdiri tegap, Duke Louis terlihat tersenyum ke arah Irene.
"Terima kasih, Irene. Aku tahu kalau kamu bisa mengatasi mereka," ucap Duke Louis.
Irene terlihat bingung dengan perkataan Duke Louis, tetapi tidak lama kemudian, Irene mulai menyadari apa maksud perkataan Duke Louis.
"Jadi ayahanda sebenarnya sudah tahu kalau ada 4 naga es yang ingin menyerang ayahanda dari belakang?. Aku kira ayahanda tidak tahu jadi aku bergegas untuk menolong ayahanda," ucap Irene.
"Tentu saja aku sudah tahu. Aku bisa saja mengatasi mereka berempat tetapi aku pikir momen ini bisa dimanfaatkan untuk melihat tindakan apa yang akan kamu lakukan jika kamu melihatku yang akan diserang oleh 4 naga es itu. Dan ternyata kamu memilih untuk bergerak menolongku," ucap Duke Louis.
"Tentu saja aku akan bergerak untuk menolong ayahanda jika aku melihat ayahanda akan diserang seperti tadi. Mana mungkin seorang anak akan diam saja melihat ayahnya akan diserang," ucap Irene.
Duke Louis pun tersenyum setelah mendengar perkataan Irene.
"Terima kasih karena telah menolongku, Irene. Tindakanmu yang langsung bergerak untuk menolongku itu benar-benar luar biasa. Aku harap kamu juga melakukan itu jika ada orang lain yang berada di situasi yang sama dengan yang aku alami tadi," ucap Duke Louis.
Setelah mendengar perkataan Duke Louis, Irene pun terdiam sesaat sambil memikirkan sesuatu.
"Begitu ya. Apa yang dilakukan ayahanda tadi merupakan semacam tes untukku. Ayahanda ingin melihat apa tindakan yang aku lakukan jika di hadapanku ada orang yang sedang berada dalam bahaya seperti yang dialami ayahanda tadi," pikir Irene. 𝑓𝘳𝘦𝑒𝑤𝑒𝘣𝘯ℴ𝘷𝘦𝓁.𝑐𝑜𝑚
Setelah memikirkan itu, Irene lalu berbicara kembali untuk menanggapi perkataan Duke Louis.
"Baik, ayahanda. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika di hadapanku ada orang lain yang berada di situasi yang sama," ucap Irene.
-
Sementara itu, di sisi komandan Asier dan komandan Ivana.
Komandan Asier dan komandan Ivana terlihat sedang melawan para naga es yang ada di sekitar mereka. Sebelumnya, ketika Irene mengalahkan 4 naga es yang hendak menyerang Duke Louis, komandan Asier sempat melihat ke arah Irene. Komandan Asier terlihat bangga saat melihat adiknya itu berhasil menguasai salah satu dari teknik rahasia keluarga San Lucia.
"Ibunda sudah memberitahuku kalau Irene sudah bisa menggunakan teknik rahasia keluarga San Lucia karena beliau sendiri yang mengajarkannya. Tetapi ini pertama kalinya aku melihat Irene menggunakannya secara langsung. Seperti yang diharapkan dari adikku," ucap komandan Asier sambil melawan para naga es yang ada di sekitarnya.
Komandan Ivana yang juga sedang melawan para naga es yang ada di sekitarnya lalu menanggapi komandan Asier yang berbicara.
"Irene tidak hanya diajari dan dilatih oleh nona Arlet saja, tetapi juga dilatih oleh Rid. Dalam beberapa waktu ke depan, mungkin saja Irene akan jauh lebih kuat dari kita berdua, Asier," ucap komandan Ivana.
"Iya, mungkin saja. Sepertinya saat ini kita tidak boleh hanya bersantai-santai saja, kak Ivana. Kemarin kita berdua sudah diberi ’pelajaran yang berharga’ oleh Rid dan sekarang kita menyadari kalau Irene mungkin saja akan melampaui kita,"
"Jika Irene berhasil melampauiku, sebagai kakaknya aku tentu bangga padanya. Tetapi hal itu juga akan membuatku sedikit kecewa apabila aku jadi lebih lemah dari Irene. Oleh karena itu, sepertinya mulai saat ini aku tidak bisa bersantai-santai saja. Aku harus menjadi lebih kuat lagi," ucap komandan Asier.
Komandan Ivana yang mendengar perkataan Asier pun lalu tersenyum.
"Iya, kamu benar. Kita tidak boleh bersantai-santai lagi. Kita harus menjadi lebih kuat," ucap komandan Ivana.
Setelah itu, baik komandan Asier dan komandan Ivana terlihat sedang bersiap untuk melancarkan sebuah serangan.
~San Lucia Art Secret Technique : Frozen Flower Petals - Estirmina~
Komandan Asier melancarkan sebuah tebasan es berukuran cukup besar ke arah para naga es yang ada di hadapannya. Jika dilihat lebih teliti, tebasan es yang dilancarkan oleh komandan Asier bukanlah tebasan es seperti biasanya, melainkan adalah kelopak bunga es dalam jumlah banyak yang menyatu dan membentuk sebuah tebasan es berukuran cukup besar.
Tebasan kelopak bunga es yang dilancarkan oleh komandan Asier lalu mengenai para naga es yang ada di hadapannya. Begitu tebasan itu mengenai tubuh dari para naga es itu, tubuh para naga es itu langsung hancur berkeping-keping. Tubuh mereka semua yang dikenai oleh tebasan itu sama sekali tidak bersisa. Para naga es yang ada di hadapan komandan Asier pun berhasil dikalahkan oleh komandan Asier dengan tebasan itu.
Sementara itu, di saat yang sama, Komandan Ivana terlihat bersiap untuk melancarkan serangan ke para naga es yang ada di hadapannya. Komandan Ivana terlihat seperti ingin melancarkan serangan tusukan kepada para naga es itu.
Lalu, saat komandan Ivana sedang bersiap untuk melancarkan serangannya itu, beberapa kelopak bunga yang terbuat dari salju tiba-tiba berjatuhan dan hinggap di atas kepala para naga es itu satu persatu. Setelah semua kepala para naga es itu sudah dihinggapi oleh kelopak bunga itu, komandan Ivana lalu melancarkan serangannya itu.
~San Lucia Art Secret Technique : Rain of Snow Petals - Disorder~
Komandan Ivana melancarkan serangan tusukan ke arah salah satu kelopak bunga yang hinggap di atas salah satu dari para naga es itu. Meski jarak antara komandan Ivana dengan naga es itu cukup jauh, komandan Ivana tetap melancarkan serangan tusukan itu. Setelah melancarkan serangan itu, sebuah sinar atau laser yang terbuat dari es muncul dari ujung pedang milik komandan Ivana. Sinar itu lalu melesat ke arah kelopak bunga yang ditandai oleh komandan Ivana sebelumnya. Sinar es itu melesat dengan cepat dan langsung menghancurkan kelopak bunga itu dalam sekejap. Tidak hanya menghancurkan kelopak bunga itu saja, sinar es itu juga melubangi kepala dari naga es yang dihinggapi oleh kelopak bunga itu. Naga es itu pun langsung tumbang setelah sinar es itu melubangi kepalanya.
Tidak berhenti sampai disitu saja, sinar es yang baru saja melubangi naga es itu terus melesat ke kelopak bunga yang masih hinggap di kepala para naga es yang lainnya. Sinar es itu melesat dengan cepat untuk menghancurkan kelopak bunga itu satu persatu. Tidak lama kemudian, semua kelopak bunga yang hinggap di kepala para naga es itu pun telah hancur. Bersamaan dengan hancurnya kelopak bunga itu, kepapa dari para naga es itu juga telah dilubangi oleh sinar es itu. Para naga es itu pun langsung tumbang setelah kepala mereka telah dilubangi oleh sinar es itu. Kini, para naga es yang ada di sekitar komandan Asier dan komandan Ivana telah dikalahkan semuanya.
Para prajurit yang melihat aksi mereka berdua terlihat sangat terkejut.
"Jadi ini kemampuan sebenarnya dari komandan prajurit kerajaan San Fulgen?,"
"Jika mereka berdua saja sudah sangat sekuat ini, bagaimana dengan Rid sendiri?," tanya orang-orang itu.
Disaat orang-orang itu masih terkejut ketika melihat aksi dari komandan Asier dan komandan Ivana, beberapa naga es tiba-tiba menghampiri mereka dari segala arah. Jumlah naga es itu terlihat cukup banyak, sekitar belasan naga es. Mereka pun kembali terkejut begitu melihat kalau para naga es itu telah mengepung mereka. Tidak hanya mengepung saja, para naga es itu juga telah bersiap untuk menyerang mereka.
Duke Louis, Duchess Arlet, komandan Asier dan komandan Ivana yang melihat hal itu langsung bereaksi dan segera bergegas menuju tempat mereka untuk menolong mereka. Tetapi baru sebentar mereka bergerak, terlihat ada seseorang yang melesat dengan sangat cepat ke tempat para prajurit itu dan langsung menyerang para naga es itu dengan pedangnya.
~Secret Sword Art - Dragon Slayer Technique : Full Moon Slash~
Serangan yang dilancarkan oleh orang itu pun langsung membuat tubuh para naga es yang mengepung para prajurit itu terbelah menjadi dua. Para naga es itu pun langsung dikalahkan dalam sekejap
Para prajurit yang melihat hal itu terlihat hanya terdiam saja. Tidak lama setelah itu, para prajurit itu lalu melihat ke sekeliling mereka. Di sekeliling mereka itu terdapat tubuh para naga es yang terbelah menjadi dua setelah terkena serangan barusan. Saat melihat tubuh para naga es itu, barulah mereka terkejut ketika melihat para naga es yang sebelumnya bersiap untuk menyerang mereka tiba-tiba langsung dikalahkan dalam waktu singkat.
"Yang benar saja?!?!,"
"Naga es sebanyak ini dikalahkan hanya dengan 1 tebasan?!," ucap orang-orang itu.
Setelah melihat ke sekeliling mereka, mereka lalu melihat ke sosok orang yang mengalahkan para naga es itu. Orang itu kini sedang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Tetapi jika itu dia, maka itu tidaklah mengherankan,"
"Kamu benar. Tidak mengherankan kalau Rid Archie lah yang melakukan hal ini,"
"Setelah melihat apa yang terjadi kemarin, sepertinya aku tidak akan terkejut lagi apabila melihat Rid Archie melakukan hal yang diluar dugaan lagi," ucap para prajurit itu.
Seperti perkataan para prajurit itu, aku lah yang baru saja mengalahkan para naga es yang mengepung para prajurit itu. Setelah mengalahkan para naga es itu, aku lalu menanyakan kondisi para prajurit itu.
"Apa kalian semua terluka?," tanyaku.
Para prajurit itu lalu saling melihat satu sama lain. Tidak lama kemudian, salah satu dari prajurit itu mulai berbicara.
"Tidak ada satupun dari kami yang terluka. Ini semua berkatmu, Rid Archie. Terima kasih," ucap prajurit itu.
Para prajurit yang lain pun ikut berterima kasih kepadaku.
"Sama-sama," ucapku.
Sementara itu, di sisi komandan Asier dan komandan Ivana.
Komandan Asier dan komandan Ivana yang sebelumnya sedang bergerak ke tempat para prajurit itu, kini sedang berhenti bergerak dan terdiam sambil melihat ke arah Rid.
"Bisa-bisanya dia mengalahkan naga es sebanyak yang muncul dari segala arah itu hanya dengan 1 serangan tebasan," ucap komandan Ivana.
"Yah jika itu Rid, aku tidak heran dia bisa melakukannya," ucap komandan Asier.
Sementara itu, di sisi Duchess Arlet.
Sama seperti komandan Asier dan komandan Ivana, Duchess Arlet kini juga sedang terdiam sambil melihat ke arah Rid.
"Lagi-lagi Rid kembali melakukan hal yang diluar dugaan," pikir Duchess Arlet.
Setelah memikirkan itu,. Duchess Arlet lalu melihat ke sekeliling. Saat melihat sekeliling, Duchess Arlet melihat masih ada beberapa naga es yang belum dikalahkan. Mengetahui masih ada beberapa naga es lagi, Duchess Arlet lalu mulai berbicara.
"Semuanya tetap fokus. Masih ada beberapa naga es lagi yang harus kita kalahkan. Kita tidak boleh lengah sampai semua naga es ini berhasil kita kalahkan," ucap Duchess Arlet dengan suara cukup keras agar perkataannya terdengar oleh semua orang di tempat itu.
Setelah mendengar perkataan Duchess Arlet, semua prajurit yang ada di tempat itu pun sedang dalam posisi bersiap untuk melawan para naga es yang masih tersisa itu. Para prajurit yang sebelumnya hanya diam ketakutan dan terkejut pun kini juga telah bersiap. Mungkin karena jumlah naga es yang tersisa saat ini lebih sedikit dari sebelumnya membuat mereka jadi lebih berani. Apalagi, setelah melihat aksi Duchess Arlet, Duke Louis, komandan Asier dan komandan Ivana dalam mengalahkan para naga es itu, mungkin hal itu juga menyulut keberanian dalam diri mereka.
Setelah itu, kami semua pun lalu bergerak untuk menyerang para naga es yang masih tersisa itu.
-
Sekitar 10-15 menit kemudian,
100 ekor naga es yang menyerang tempat para prajurit itu berada saat ini pun telah berhasil dikalahkan. Tubuh para naga es yang hancur itu kini tersebar di sekeliling tempat kami berada. Sebagian besar prajurit terlihat kelelahan setelah melawan para naga es itu. Meski kelelahan, untungnya tidak ada satupun dari mereka yang terluka saat ini. Sebelumnya ada, tetapi mereka yang terluka langsung disembuhkan oleh Rid.
Kini, setelah 100 ekor naga es itu berhasil dikalahkan, para prajurit yang ada di tempat itu terlihat sedang mengarahkan pandangan mereka ke beberapa orang tertentu. Beberapa orang itu adalah Duke Louis, Duchess Arlet, Komandan Asier, komandan Ivana, Irene dan juga Rid. Alasan para prajurit itu melihat ke arah mereka karena mereka merasa takjub dan terkesan dengan aksi mereka berenam. Itu karena mereka berenam adalah orang yang paling banyak mengalahkan 100 ekor naga es itu.
"Apa-apaan mereka itu!? Mereka dapat mengalahkan para naga es itu dengan mudah,"
"Seperti yang diharapkan dari keluarga San Lucia. Mereka dipastikan adalah keluarga terkuat kedua setelah keluarga kerajaan di kerajaan San Fulgen ini,"
"Tidak, justru menurutku keluarga San Lucia merupakan keluarga terkuat di kerajaan ini,"
"Mereka semua benar-benar kuat, terlebih Rid Archie. Bisa-bisanya dia mengalahkan para naga es itu dengan mudahnya. Sejauh ini, dia yang paling banyak mengalahkan para naga es itu,"
"Itu benar. Anggota keluarga San Lucia memang kuat tetapi ada individu yang lebih kuat lagi dari luar keluarga San Lucia. Individu itu adalah Rid Archie. Bisa-bisanya dia menjadi orang yang paling banyak mengalahkan para naga es itu dalam kondisi sedang mengaktifkan sihir api penghangatnya dan juga sambil menyembuhkan orang-orang yang terluka. Dengan melakukan semua hal itu, bagaimana bisa dia masih belum kelelahan sampai sekarang?," ucap para prajurit itu.
-
Sementara itu, di sebuah gua yang ada di pegunungan Orokho.
Sosok wanita berwujud Humanoid naga es terlihat sedang duduk di kursi singgasananya sambil memasang ekspresi yang sedikit terkejut.
"Mereka semua sudah dikalahkan? Secepat ini?," tanya wanita itu.
Setelah mengatakan itu, wanita itu tiba-tiba berdiri dari kursi singgasananya.
"Kelihatannya orang-orang yang datang kali ini lebih kuat dari yang sebelumnya. Kalian bertiga, cepat pergi ke tempat orang-orang itu," ucap wanita itu.
3 naga berukuran sangat besar yang berada di belakang kursi singgasana yang diduduki wanita itu terlihat sudah bersiap untuk menjalankan perintah wanita itu.
"Begitu kalian sampai di tempat mereka, langsung bunuh mereka semua tanpa terkecuali. Jangan biarkan ada satupun dari mereka yang hidup dan pergi dari pegunungan ini," ucap wanita itu dengan ekspresi yang serius.
Setelah mendengar perkataan wanita itu, 3 naga es itu pun langsung mengaum dengan sangat keras.
*ROAARRRRRRR
Kemudian, 3 naga es berukuran sangat besar itu pun langsung terbang melesat untuk menuju ke tempat Rid dan yang lainnya. Sementara wanita berwujud humanoid naga es itu terlihat sedang melihat ke arah 3 naga es yang sedang terbang untuk keluar dari gua.
"Aku tahu kalau wanita berambut putih itu datang lagi kesini tetapi saat ini aku sedang tidak mood untuk menerima tamu lagi," ucap wanita itu.
Setelah mengatakan itu, wanita itu menoleh ke bagian pojok gua yang terdapat bongkahan es besar yang di dalamnya ada seorang wanita yang tertidur. Setelah menoleh ke bongkahan es itu selama beberapa detik, wanita itu lalu kembali duduk di kursi singgasananya dan mulai menutup matanya kembali.
-Bersambung