Peace Hunter

Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho

Peace Hunter

Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho

Translate to
Chapter 512: Chapter 512 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho

Kembali ke tempat Rid dan pasukan ekspedisi berada. ๐™›๐“ป๐’†๐“ฎ๐’˜๐™š๐™—๐’๐™ค๐™ซ๐“ฎ๐’.๐“ฌ๐’๐™ข

Setelah melihat pegunungan Orokho yang tepat berada di depanku, aku lalu melihat ke sekitarku. Saat melihat ke sekitar, aku melihat hampir semua orang yang ikut dalam ekspedisi merasa kedinginan. Meski mereka tidak bilang kalau mereka kedinginan, tetapi itu terlihat dari gestur tubuh mereka.

Bahkan para anggota keluarga San Lucia yang dikenal tahan terhadap suhu dingin juga merasa kedinginan ketika mereka menginjakkan kaki di tempat ini. Para anggota keluarga San Lucia yang merasa kedinginan yang aku lihat adalah Irene, senior Nadine, dan yang lainnya. Untuk Duke Louis, Duchess Arlet, komandan Asier, dan komandan Ivana, aku tidak tahu apakah mereka merasa kedinginan karena gestur tubuh mereka tidak menandakan kalau mereka kedinginan. Mungkin saja mereka sebenarnya kedinginan tetapi mereka masih bisa menahan untuk tidak membuat gestur tubuh yang menandakan kalau mereka kedinginan, sama sepertiku.

Saat ini, aku juga merasa kedinginan. Jubah tebal yang aku dan yang lainnya kenakan ternyata tidak bisa menahan dinginnya suhu di pegunungan Orokho ini.

"Suhu di tempat ini benar-benar sangat dingin, bahkan lebih dingin dari suhu di kota San Lucia," ucap Lily yang merasa kedinginan.

"Iya, kamu benar, Lily," ucap Leandra yang juga ikut merasa kedinginan.

Terlihat asap putih keluar dari mulut mereka ketika mereka berbicara. Tidak hanya saat berbicara saja, asap putih itu juga keluar dari mulut mereka ketika mereka menghembuskan nafas. Sebegitu dinginnya suhu di tempat ini sampai asap putih pekat selalu keluar dari mulut mereka setiap mereka menghembuskan nafas. Padahal di kota San Lucia tidak sampai seperti ini.

Sementara itu, Duke Louis dan Duchess Arlet sudah menyadari kalau hampir semua orang yang ikut dalam ekspedisi ini merasa kedinginan. Oleh karena itu, mereka langsung memberi suatu perintah.

"Untuk para prajurit yang bisa menggunakan sihir api yang cukup panas, aku minta tolong untuk menggunakan sihir kalian agar kami semua tidak kedinginan dan tetap merasa hangat di pegunungan ini," ucap Duchess Arlet.

Setelah mendengar perkataan Duchess Arlet, beberapa prajurit yang memenuhi kriteria dari Duchess Arlet pun langsung menanggapi perkataannya.

"Baik, nona Duchess," ucap beberapa prajurit itu.

Setelah itu, beberapa prajurit itu pun bersiap untuk mengaktifkan sihir mereka. Tetapi sebelum itu, aku langsung menghentikan mereka.

"Berhenti," ucapku.

Semua orang yang ada di tempat itu pun terkejut dengan perkataanku. Beberapa prajurit yang bersiap untuk mengaktifkan sihir mereka pun batal mengaktifkannya.

Lalu, Duchess Arlet yang bingung kenapa aku menyuruh mereka berhenti pun bertanya kepadaku.

"Ada apa, Rid? Kenapa kamu menyuruh mereka untuk berhenti?," tanya Duchess Arlet.

"Jika mereka terus menggunakan sihir api untuk menghangatkan kita semua selama berada di pegunungan ini, dikhawatirkan mereka akan kehabisan Mana lebih dulu sebelum kita bertemu makhluk itu. Kita masih membutuhkan bantuan mereka untuk mengalahkan makhluk itu dan para naga es ciptaannya. Jadi aku ingin menghemat Mana mereka agar mereka tidak cepat kelelahan,"

"Sebagai gantinya biar aku saja yang melakukannya, bibi Arlet. Aku akan menghangatkan kalian semua dengan sihir apiku," ucapku.

~ Fire Magic : Calefaciens Ignis ~

Dengan sihir apiku itu, aku menciptakan sebuah kobaran api berukuran sedang yang melayang dan berada di tengah-tengah kami semua. Setelah kobaran api itu muncul, semua orang yang sebelumnya merasa kedinginan, kini tidak lagi merasa kedinginan. Aku bisa mengetahuinya karena mereka sudah berhenti membuat gestur tubuh yang merasa kedinginan. Asap putih pun tak lagi muncul setiap mereka menghembuskan nafas mereka. Mereka semua pun langsung terkejut begitu mereka sudah tidak merasakan kedinginan lagi.

"Aku sudah tidak merasa kedinginan lagi. Ini sungguhan!?,"

"Aku juga tidak merasa kedinginan lagi,"

"Aku juga," ucap orang-orang itu.

Sementara itu, dari banyaknya orang yang terkejut karena sudah tidak merasakan kedinginan lagi, ada beberapa orang yang justru lebih terkejut begitu menyadari kalau Rid bisa menghangatkan semua orang dengan 1 sihirnya, dimana seharusnya sulit bagi orang lain untuk melakukan itu.

"Apa-apaan sihirnya itu? Hanya dengan 1 sihir api sudah bisa menghangatkan semua orang yang ikut dalam ekspedisi ini!?,"

"Kemarin dia sudah melakukan hal yang sangat luar biasa, dan sekarang dia melakukannya lagi," ucap beberapa orang itu.

Lalu, setelah berhasil membuat sihir api itu, aku lalu menoleh ke arah Duchess Arlet. Aku ingin melihat bagaimana tanggapan Duchess Arlet terhadap apa yang aku lakukan. Saat aku menoleh ke arah Duchess Arlet, Duchess Arlet ternyata sedang berjalan menghampiriku.

"Terima kasih karena telah membantu dengan menggunakan sihirmu, Rid. Tetapi apa tidak apa-apa jika kamu yang menghangatkan kami semua seorang diri? Itu berarti kamu harus mempertahankan sihirmu itu sepanjang ekspedisi ini," ucap Duchess Arlet sambil berjalan sampai akhirnya beliau berhenti beberapa langkah di depanku.

"Tidak apa-apa, bibi Arlet. Lagipula aku sudah bilang kalau lebih baik untuk menghemat Mana mereka. Mana mereka akan cepat habis apabila terus digunakan untuk menghangatkan semua orang dengan sihir mereka. Jadi biar aku saja yang melakukannya, lagipula aku cukup percaya diri dengan kapasitas Manaku," ucapku.

Duchess Arlet terdiam sesaat setelah mendengar perkataanku. Namun, tidak lama kemudian beliau kembali berbicara.

"Ya sudah jika kamu berkata begitu. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih, Rid," ucap Duchess Arlet.

"Sama-sama, bibi Arlet," ucapku.

Setelah itu, Duchess Arlet tiba-tiba menatap ke arah Rid tanpa Rid sadari.

"Aku tahu kalau Rid itu bukan manusia biasa. Sudah banyak hal-hal diluar dugaan yang dia lakukan. Latih tanding antara dia dengan Asier dan Ivana yang terjadi kemarin masih belum bisa aku lupakan. Dan sekarang dia kembali melakukan hal di luar dugaan dengan membuat sihir api untuk menghangatkan kami semua seorang diri,"

"Setiap kali Rid selalu melakukan hal diluar dugaan, selalu muncul pertanyaan yang sama di dalam diriku ini. Rid, sebenarnya kamu itu siapa?," pikir Duchess Arlet.

Disaat Duchess Arlet terus terdiam sambil menatap Rid, tiba-tiba ada seorang prajurit yang dengan suara keras seperti hendak memberi laporan.

"Ada monster yang datang!!," ucap prajurit itu.

Suara prajurit itu berhasil didengar oleh semua orang yang ada di tempat itu. Mereka semua pun langsung bersiap setelah mendengar laporan prajurit itu. Duchess Arlet yang awalnya terdiam pun juga langsung bersiap. Begitupun dengan Duke Louis yang langsung memberi perintah dengan menggunakan alat sihir miliknya.

"Ada monster yang datang, bersiaplah untuk menyerang!," ucap Duke Louis.

Semua orang yang ada di tempat itu sudah bersiap menunggu kedatangan para monster yang akan datang. Tidak lama kemudian, tepat seperti perkataan prajurit itu, sekelompok monster dalam jumlah banyak akhirnya tiba di tempat kami berada. Kebanyakan dari monster itu adalah Ice Lizard dan Ice Yeti yang merupakan monster yang tinggal di pegunungan Orokho.

Setelah para monster itu tiba di tempat kami, para monster itu lalu langsung menyerang kami. Karena kami sudah tahu kalau mereka akan datang dan menyerang, begitu mereka menyerang kami, kami dapat mengatasinya dengan mudah.

Saat kami masih fokus mengatasi para monster yang menyerang kami, aku memutuskan untuk memberitahu kepada semua orang tentang sihir api yang digunakan untuk menghangatkan kami semua. Aku memberitahu mereka dengan suara cukup keras agar terdengar oleh mereka semua.

"Semuanya, sihir api yang aku gunakan untuk menghangatkan kita semua hanya berefek dalam radius 100 meter dari kobaran api yang aku ciptakan ini. Jadi tolong tetap berada dalam radius 100 meter dari kobaran api ini agar kalian tidak kedinginan oleh suhu ekstrem pegunungan ini," ucapku.

Setelah aku mengatakan itu, semua orang yang mendengar perkataanku langsung menoleh ke arahku. Mereka menoleh ke arahku dengan ekspresi terkejut.

"Apa!?,"

"100 meter!?,"

"Yang benar saja!? Sihir apimu ini memiliki radius penghangatan sejauh 100 meter!?," ucap beberapa orang yang terkejut setelah mendengar perkataanku.

Tidak hanya mereka semua saja yang terkejut, Duchess Arlet juga terkejut setelah mendengar perkataan Rid.

"Tidak mengherankan kalau mereka semua terkejut. Radius 100 meter itu sudah sangat luas untuk sihir api yang digunakan untuk penghangatan seperti ini. Para prajuritku di ekspedisi sebelumnya paling hanya bisa menggunakan sihir api untuk penghangatan dalam radius 10-20 meter,"

"Tetapi ini 100 meter!? Dan lagi, hingga saat ini Rid belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan meski menggunakan sihir dalam radius yang sangat luas itu. Lagi-lagi aku tidak bisa berkata-kata terhadapmu, Rid," pikir Duchess Arlet.

Meski mereka semua masih terkejut dengan perkataan Rid, tetapi hal itu tidak mengganggu fokus mereka yang saat ini sedang melawan para monster yang terus menyerang mereka.

-

Sementara itu, di sebuah gua yang ada di pegunungan Orokho.

Sosok wanita berwujud humanoid Naga es terlihat sedang duduk di kursi singgasananya. Matanya seperti sedang melihat ke sudut lain dari gua itu.

"Aku merasakan ada banyak orang yang datang ke pegunungan ini. Di antara banyak orang itu, aku merasakan sosok yang familiar. Kalian semua, pergi dan urus orang-orang itu," ucap wanita itu.

Setelah itu, 100 ekor naga es yang ada di hadapan wanita itu langsung terbang keluar gua untuk menyelesaikan perintah yang diberikan wanita itu.

-

Kembali ke tempat para pasukan ekspedisi berada.

Terlihat para pasukan ekspedisi sudah mengalahkan sebagian besar dari para monster yang menyerang mereka. Hanya tersisa beberapa saja dari monster itu yang masih hidup. Tidak lama kemudian, seluruh monster yang menyerang mereka pun berhasil dikalahkan.

"Kerja bagus, kalian semua," ucap Duke Louis lewat alat sihir yang beliau punya.

Beliau mengapresiasi kerja keras semua orang dalam mengalahkan para monster yang tiba-tiba menyerang.

"Untuk sekarang, lebih baik kita istirahat dulu. Lagipula kalian pasti cukup lelah setelah mengalahkan para monster tersebut. Kita akan kembali menjelajah pegunungan Orokho setelah istirahat selesai," ucap Duke Louis.

Duke Louis masih menggunakan alat sihir ketika berbicara agar suaranya dapat didengar oleh semua orang yang ikut dalam ekspedisi.

"Baik, tuan Duke," ucap orang-orang itu setelah mendengar perkataan Duke Louis.

Setelah itu, mereka lalu menaruh kembali senjata yang mereka gunakan. Sebagian dari mereka lalu duduk di hamparan salju untuk istirahat, sementara sisanya hanya berdiri saja.

Ketika kami semua sedang istirahat, tiba-tiba aku merasakan ada banyak objek yang mendekat ke arah kami berada. Aku yang sebelumnya sudah menaruh pedangku di pinggangku, lalu mengambil pedangku lagi dan langsung menoleh ke arah datangnya banyak objek itu. Duke Louis dan Duchess Arlet yang terlihat bingung dengan tingkahku yang tiba-tiba mengambil pedangku lagi lalu bertanya kepadaku.

"Ada apa, Rid? Apa ada sesuatu?," tanya Duke Louis.

"Iya. Aku merasakan ada banyak objek yang sedang mendekat ke tempat kita berada. Objek itu mendekat dengan cara terbang dari arah sana," ucapku sambil menunjuk ke arah datangnya objek itu.

"Banyak objek terbang yang sedang mendekat ke tempat kita berada?," tanya Duchess Arlet.

Duchess Arlet awalnya bingung dengan objek terbang yang aku maksud. Tetapi tidak lama kemudian, beliau terlihat seperti sudah tahu apa objek terbang yang aku maksud itu.

"Jangan bilang!?," ucap Duchess Arlet.

Tepat setelah Duchess Arlet mengatakan itu, objek terbang yang aku maksud terlihat sudah mulai bermunculan dari arah yang aku tunjuk barusan. Semua orang yang sebelumnya sedang beristirahat langsung bersiaga dengan mengambil dan memegang senjata mereka masing-masing. Mereka lalu menoleh dan melihat ke arah datangnya objek terbang itu untuk melihat objek terbang itu lebih teliti. Semakin dekat objek terbang itu dengan tempat kami berada, semakin jelas juga wujud dari objek terbang itu. Ketika mereka semua sudah melihat wujud objek terbang itu dengan jelas, mereka semua pun langsung terkejut.

"Objek yang terbang itu, bukankah itu naga? Selain itu, jumlahnya ada banyak sekali," ucap salah satu anggota pasukan ekspedisi.

Objek terbang itu ternyata adalah adalah Naga, dan jumlah mereka sangatlah banyak.

"Jumlah mereka itu kira-kira ada 100 ekor," ucapku.

Beberapa anggota pasukan ekspedisi yang mendengar perkataanku pun langsung terkejut.

"100 ekor!?,"

"Jadi maksudmu jumlah naga itu ada 100 ekor!?,"

"Mengalahkan 1 ekor naga saja sudah cukup sulit, dan sekarang kami harus mengalahkan 100 ekor!?," ucap beberapa anggota pasukan ekspedisi.

Mereka sepertinya masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Ini pertama kalinya mereka melihat naga, tentu mereka akan sangat terkejut. Apalagi yang mereka lihat saat ini ada sekitar 100 ekor naga. Jika berpacu pada buku atau informasi yang memberitahu soal beragam macam ras di dunia ini, tentu mengalahkan 1 ekor naga cukuplah sulit. Tetapi itu jika naga itu merupakan naga asli. Sedangkan naga yang terbang menghampiri kami semua saat ini, bukanlah naga asli. Aku sudah tahu itu dari awal, makanya aku menyebut mereka dengan kata โ€™objekโ€™ bukan dengan โ€™makhlukโ€™ karena mereka bukan โ€™makhluk asliโ€™.

Disaat beberapa orang masih terkejut dengan kemunculan para naga itu, Duchess Arlet tiba-tiba berbicara untuk menenangkan mereka semua.

"Semuanya tetap tenang. Para naga itu bukanlah naga sungguhan, mereka hanyalah naga yang terbuat dari es. Sebelumnya aku sudah bilang kan kalau makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho ini bisa menciptakan banyak naga es? Para naga es itu lah makhluk ciptaannya,"

"Sekarang lebih baik kita segera menghancurkan para naga es itu. Makhluk itu pasti akan muncul setelah kita menghancurkan para naga es itu," ucap Duchess Arlet.

Saat Duchess Arlet mengumpulkan para prajurit yang akan ikut dalam ekspedisi, dia sudah memberitahu segala sesuatu yang dia tahu tentang kekuatan makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho, termasuk kemampuannya dalam menciptakan naga es. Mereka yang ikut dalam ekspedisi ini seharusnya sudah menduga kalau akan ada banyak naga es yang muncul. Mereka seharusnya sudah tahu kalau hal ini mungkin akan terjadi dan mereka sudah berlatih untuk mengantisipasinya. Tetapi begitu mereka melihat banyaknya naga es itu secara langsung, mereka hanya terdiam sambil menampilkan ekspresi yang terkejut.

Meski Duchess Arlet sudah memberitahu mereka sebelumnya dan bahkan kembali mengingatkan mereka sekarang tentang para naga itu yang hanya merupakan naga yang terbuat dari sihir es. Hal itu tetap tidak dapat membuat sebagian besar dari mereka menjadi tenang. Adanya 100 ekor naga meskipun itu hanyalah naga ciptaan yang terbuat dari sihir es tetap membuat mereka terkejut dan ketakutan sehingga mereka hanya terdiam saja.

"Sebagian besar dari mereka hanya diam saja. Sepertinya mereka masih terkejut ketika melihat ada 100 ekor naga es di hadapan mereka," ucap Duke Louis sambil memperhatikan orang-orang yang terkejut.

"Apa boleh buat, kalau begitu kita lawan para naga es itu dengan orang-orang yang bisa bergerak. Asier, Ivana, bersiap untuk melawan para naga es itu," ucap Duchess Arlet sambil memberi perintah kepada komandan Asier dan komandan Ivana.

"Baik," ucap komandan Asier dan Ivana.

Duke Louis, Duchess Arlet, komandan Asier dan komandan Ivana lalu bersiap untuk menyerang para naga es yang menghampiri kami.

"Aku akan ikut membantu juga, ibunda," ucap Irene.

"Kami juga akan ikut membantu, nona Duchess," ucap Leandra.

Irene, Lily dan Leandra juga terlihat bersiap untuk melawan para naga es itu.

"Baiklah. Kalian semua yang masih bisa bergerak juga bersiaplah untuk melawan para naga es itu," ucap Duchess Arlet.

"Baik, nona Duchess," ucap sebagian orang dari pasukan ekspedisi.

Sementara sebagian lagi masih terdiam dan terkejut dengan para naga es yang ada di hadapan mereka. Aku tidak menanggapi perkataan Duchess Arlet, meski begitu aku juga telah bersiap untuk melawan para naga es itu.

Lalu, setelah para naga es itu sudah berada sangat dekat dengan tempat kami berada, Duchess Arlet lalu memerintahkan untuk langsung menyerang para naga es itu.

"Kalahkan para naga es itu!," ucap Duchess Arlet.

Duke Louis, Duchess Arlet dan semua orang yang bisa bergerak lalu maju untuk melawan para naga es itu. Mereka menggunakan senjata dan sihir mereka untuk melawan para naga es itu. Para naga es itu tentu tidak diam saja saat mereka diserang oleh Duke Louis, Duchess Arlet dan yang lainnya. Mereka menyerang balik dengan menggunakan cakar, ekor, dan tubuh mereka. Bahkan mereka juga menyerang dengan menggunakan semburan sihir es yang keluar dari mulut mereka.

Beberapa orang yang ikut menyerang para naga es itu pun terkena serangan yang dilancarkan para naga es itu. Untungnya, mereka hanya terluka saja meskipun ada beberapa dari mereka yang terluka cukup parah setelah terkena serangan itu. Saat melihat mereka yang terluka setelah terkena serangan para naga es itu, aku pun berinisiatif untuk langsung menyembuhkan mereka.

~Fire Magic : Fire Blessing of Full Healing~

Setelah aku mengaktifkan sihirku, beberapa bola-bola api kecil langsung keluar dari kedua tanganku yang saat ini sedang diangkat keatas ketika mengaktifkan sihirku itu. Bola-bola api kecil itu kemudian langsung melesat ke arah orang-orang yang terluka setelah terkena serangan para naga es itu. Orang-orang yang terluka itu terlihat bingung ketika melihat ada bola api kecil yang menghampirinya.

"Apa ini?,"

"Sebuah bola api kecil?," tanya orang-orang yang terluka itu.

Karena mereka terlihat bingung, aku memutuskan untuk memberitahu mereka agar mereka tidak bingung lagi.

"Kalian jangan khawatir, bola api itu tidak berbahaya. Justru, bola api itu akan menyembuhkan kalian," ucapku.

Setelah aku mengatakan itu, bola-bola api kecil itu lalu mengenai tubuh dari orang-orang yang terluka. Setelah bola-bola api kecil itu mengenai tubuh mereka, mereka yang terluka pun langsung pulih. Entah itu luka ringan maupun luka yang cukup parah, semuanya langsung pulih setelah terkena bola-bola api kecil itu. Bahkan anggota tubuh mereka yang membeku setelah terkena semburan es dari para naga es itu juga langsung pulih dan es yang membekukan anggota tubuh mereka pun langsung mencair.

Ini alasan kenapa aku menggunakan sihir penyembuhan dari sihir api yang merupakan perpaduan sihir api dengan โ€™Blessing of Full Healing. Jika aku hanya menggunakan โ€™Blessing of Full Healingโ€™ saja, anggota tubuh mereka yang membeku tidak akan pulih. Sihir api yang aku gunakan untuk penghangatan pun tidak bisa untuk mencairkan es itu. Jadi aku memutuskan menggunakan sihir penyembuhan dari sihir api agar anggota tubuh mereka bisa pulih dan tidak membeku lagi.

Orang-orang yang aku pulihkan itu pun terkejut setelah melihat tubuh mereka yang terluka tiba-tiba langsung pulih setelah menyentuh bola-bola api kecil itu. Sementara itu, Duchess Arlet yang mengetahui kalau aku telah menyembuhkan orang-orang yang terluka itu lalu berterima kasih kepadaku.

"Terima kasih karena telah menyembuhkan mereka, Rid," ucap Duchess Arlet.

Duchess Arlet mengatakan itu sambil melawan para naga es yang ada di hadapannya. Setelah mengatakan itu, Duchess Arlet terlihat bersiap untuk melancarkan sebuah serangan kepada beberapa naga es yang ada di hadapannya.

"Untuk sekarang memang belum ada yang tewas karena serangan para naga es itu, tetapi jika pertarungan ini berlangsung lama, mungkin saja akan ada korban tewas. Kita harus segera menyelesaikan pertarungan ini," ucap Duchess Arlet.

Setelah itu, Duchess Arlet lalu melancarkan sebuah serangan kepada beberapa naga es yang ada di hadapannya.

~San Lucia Art Secret Technique : Freezing Air Slash - Absolut Frysning~

Duchess Arlet melesat dengan sangat cepat ke arah beberapa naga es yang ada di hadapannya dan disaat yang sama juga langsung menebas beberapa naga es itu. Tidak lama setelah Duchess Arlet menebas beberapa naga es itu, tubuh beberapa naga es itu tiba-tiba diselimuti oleh bongkahan es yang sangat besar. Bongkahan es itu menyelimuti hampir 70-80% tubuh beberapa naga es itu. Bongkahan es yang menyelimuti tubuh mereka itu membuat mereka tidak bisa bergerak meski tubuh mereka sendiri juga terbuat dari es.

Tidak lama setelah tubuh mereka diselimuti bongkahan es, bongkahan es itu tiba-tiba hancur dengan sendirinya. Tidak hanya bongkahan es itu saja, bagian tubuh beberapa naga es yang diselimuti oleh bongkahan es itu juga ikut hancur. Mereka pun telah dikalahkan sepenuhnya oleh Duchess Arlet.

- Bersambung

*Note dari Author :

Halo para pembaca Peace Hunter. Saya ingin meminta maaf karena baru merilis bab terbaru hari ini. Sebelumnya saya dilanda cukup banyak kesibukan jadi tidak ada waktu untuk membuat bab terbaru, makanya baru bisa merilis bab terbaru sekarang. Sebenarnya saya ingin merilis 2 bab sekaligus tetapi bab yang 1 lagi masih proses pembuatan. Prosesnya sudah 50% dan diperkirakan rilis Minggu ini jika tidak ada kesibukan lagi yang melanda saya.

Itu saja yang ingin saya sampaikan. Terima kasih atas perhatiannya.

How did this chapter make you feel?

One tap helps us surface trending chapters and recommend titles you'll actually enjoy โ€” your vote shapes You may also like.