Aryuu the unknowable god-Chapter 23: Bab 22 – Kejaran yang Tak Terhindarkan---

If audio player doesn't work, press Reset or reload the page.

Chapter 23 - Bab 22 – Kejaran yang Tak Terhindarkan---

Persembunyian yang Tak Bertahan Lama

Setelah melarikan diri dari amukan Akeno, Aryuu dan Hana akhirnya menemukan tempat untuk bersembunyi di salah satu bagian terpencil akademi. Mereka memilih sebuah ruangan kosong yang jarang digunakan, berharap bisa menghindari Akeno yang sedang dalam mode yandere.

Di dalam ruangan yang gelap, Aryuu bersandar di dinding, sementara Hana duduk di lantai dengan napas terengah-engah.

---

Hana (dengan suara panik, berbisik):

"Apa yang baru saja terjadi...? Kenapa Akeno berubah seperti itu? Dia biasanya lembut dan tenang!"

---

Aryuu (mengusap wajahnya, terlihat frustrasi):

"Entahlah... Ini pertama kalinya aku melihatnya seperti itu. Aku tidak menyangka dia bisa menjadi begitu mengerikan."

---

Hana (mendekat sedikit ke Aryuu, masih bingung):

"Tapi kenapa dia begitu marah? Apa yang sudah kau lakukan padanya, Aryuu?"

---

Aryuu (menatap Hana dengan ekspresi tidak percaya):

"Aku? Aku bahkan tidak melakukan apa-apa! Aku hanya menepuk kepalamu sebentar, dan tiba-tiba dia mengamuk seperti itu!"

---

Hana (menyilangkan tangan, berpikir):

"Jadi, kau bilang... hanya karena itu?"

---

Aryuu (mendesah pelan, tampak putus asa):

"Aku juga tidak yakin... Tapi jelas sekali ini bukan hanya tentang itu."

---

Mereka berdua diam sejenak, mencoba menganalisis situasi. Suasana di ruangan itu terasa sunyi, tetapi ada ketegangan yang menggantung di udara. Mereka tahu bahwa Akeno tidak akan berhenti begitu saja.

---

Hana (berbisik, sedikit gemetar):

"Kita harus tetap di sini untuk sementara waktu. Kalau dia menemukan kita... aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi."

---

Aryuu (menghela napas, menatap langit-langit ruangan):

"Aku juga berpikir begitu... Tapi masalahnya, kita tidak tahu seberapa lama kita bisa bertahan."

---

Namun, sebelum mereka bisa menyusun rencana lebih lanjut, sebuah suara tiba-tiba terdengar di luar ruangan.

Tok... tok... tok...

Suara langkah kaki mendekat.

---

Ketahuan oleh Akeno

Mereka berdua langsung membeku. Suara itu semakin mendekat, dan aura yang menyelimuti ruangan menjadi semakin menekan.

Hana (berbisik panik):

"Itu dia... Akeno menemuk—"

---

BRAK!

Pintu ruangan terbuka dengan keras, dan di sana berdiri Akeno.

---

Wajahnya masih memancarkan senyum yang tidak biasa, tatapannya tajam dan penuh posesif. Mata merahnya bersinar, seolah-olah dia baru saja menemukan sesuatu yang telah lama dia cari.

Akeno (tersenyum lembut, namun menyeramkan):

"Ah... ketemu juga~"

---

Aryuu dan Hana langsung berdiri, bersiap untuk melarikan diri lagi. Namun, sebelum mereka bisa bergerak, Akeno sudah berada tepat di depan Aryuu dalam sekejap mata.

Tangannya yang lembut dan anggun mencengkeram pergelangan tangan Aryuu dengan erat, mencegahnya melarikan diri.

---

Aryuu (terkejut, berusaha menarik tangannya):

"Akeno... lepaskan."

---

Akeno (masih tersenyum, tetapi matanya berkilat dengan kegilaan):

"Lepaskan? Kenapa aku harus melakukan itu? Aku akhirnya menemukanmu, Aryuu. Kau tidak akan bisa lari lagi."

---

Hana (berusaha ikut campur, suaranya sedikit gemetar):

"Akeno, kau tidak seperti ini biasanya! Apa yang terjadi padamu?"

---

Akeno (menoleh ke Hana, senyumannya tetap tak berubah):

"Oh, Hana... Maaf, tapi ini bukan urusanmu."

---

Dalam sekejap, Akeno menarik Aryuu dengan kekuatan luar biasa, membuat Aryuu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dalam pelukannya.

Hana hanya bisa tertegun, sementara Aryuu yang biasanya tak tersentuh, kini berada dalam genggaman Akeno yang erat.

---

Aryuu (berusaha melepaskan diri, tetapi Akeno menahannya lebih erat):

"Akeno! Jangan keterlaluan!"

---

Akeno (berbisik lembut di telinga Aryuu, tetapi dengan nada mengancam):

"Aku tidak bisa membiarkanmu lari lagi... Kau hanya milikku, Aryuu~"

---

Ketakutan yang Nyata

Bagi Aryuu, ini adalah momen yang cukup menegangkan.

Dia bisa menghancurkan dimensi, melawan dewa, dan menghancurkan segala sesuatu dengan mudah, tetapi menghadapi seorang Akeno yang yandere? Itu adalah pertempuran yang berbeda.

Dia bisa merasakan cengkraman Akeno yang begitu erat, hampir seperti rantai yang tidak bisa diputuskan.

Sementara itu, Hana hanya bisa berdiri di samping, tidak yakin harus berbuat apa.

---

Hana (berbisik, panik):

"Apa yang harus kita lakukan sekarang...?"

---

Aryuu (mendesah dalam hati, pasrah sejenak):

"Aku juga ingin tahu jawabannya..."

---

Dengan Akeno yang kini benar-benar menguasai keadaan, Aryuu dan Hana terjebak dalam situasi yang tidak bisa mereka kendalikan.

Aryuu masih dalam genggaman erat Akeno, sementara Hana berdiri di sampingnya dengan ekspresi bingung.

Akeno masih menatap Aryuu dengan mata penuh obsesi, tetapi sekarang auranya sedikit lebih terkendali setelah berhasil menangkapnya.

---

Aryuu (menghela napas, mencoba tetap tenang):

"Akeno, kau bisa melepaskan tanganku sekarang?"

---

Akeno (masih memeluk Aryuu, mengeratkan genggamannya):

"Tidak bisa."

---

Hana (berbisik pada Aryuu, mengangkat alisnya):

"Aku rasa dia tidak akan melepaskanmu dalam waktu dekat."

---

Aryuu (mendesah, menatap Akeno dengan sabar):

"Akeno... kenapa kau tiba-tiba marah seperti itu? Aku tidak ingat melakukan sesuatu yang bisa membuatmu kehilangan kendali."

---

Akeno terdiam sejenak, ekspresinya berubah dari menyeramkan menjadi lebih malu-malu, tetapi dia masih memalingkan wajahnya seolah enggan mengakuinya.

Pipinya sedikit memerah.

---

Akeno (dengan nada tsundere, masih mencengkeram Aryuu):

"Ka-Kau... Kau berani menepuk kepala Hana seperti itu...!"

Follow curr𝒆nt nov𝒆ls on fɾeeweɓnѳveɭ.com.

---

Aryuu (terkejut, sedikit bingung):

"Hah? Jadi hanya karena itu?"

---

Akeno (mengalihkan pandangan, menggembungkan pipinya sedikit):

"T-tentu saja itu masalah besar! Kenapa dia yang kau elus? Kenapa bukan aku?"

---

Hana (melihat perubahan sikap Akeno, menahan tawa):

"Ah, jadi itu masalahnya? Akeno cemburu hanya karena tepukan kepala?"

---

Akeno (menyipitkan mata ke arah Hana, menggerutu pelan):

"Diam kau, ini bukan urusanmu..."

---

Aryuu (memandang Akeno dengan ekspresi datar, masih tidak percaya dengan alasan ini):

"Serius...? Jadi kau mengejarku, menyerangku, bahkan hampir menghancurkan ruangan ini... hanya karena itu?"

---

Akeno (membelalakkan mata, sedikit panik):

"Aku... aku tidak bermaksud sejauh itu! Aku hanya... aku hanya ingin..."

Akeno menunduk sedikit, wajahnya semakin merah, tetapi dia tetap bersikap tsundere.

---

Akeno (berbisik, hampir tidak terdengar):

"Aku juga ingin dielus..."

---

Aryuu (menatap Akeno dengan ekspresi datar):

"...Apa?"

---

Akeno (mengerucutkan bibir, mengalihkan pandangan):

"Aku bilang... aku juga ingin dielus! Puas?!"

---

Hana (tertawa kecil, menatap Aryuu dengan ekspresi menggoda):

"Oh? Aryuu, sepertinya kau harus memenuhi permintaannya~"

---

Aryuu (menghela napas, mengangkat satu tangan):

"Baiklah, baiklah... kalau itu bisa membuatmu tenang."

---

Akeno (masih bersikap tsundere, tetapi terlihat sedikit senang):

"H-hanya kali ini saja! Jangan berpikir aneh-aneh!"

---

Dengan ekspresi lelah, Aryuu perlahan mengangkat tangannya dan menepuk kepala Akeno dengan lembut.

Satu... dua... tiga kali.

Akeno menutup matanya sesaat, wajahnya benar-benar memerah, tetapi dia tidak menolak.

---

Hana (menahan tawa, berbisik pada Aryuu):

"Wow... aku tidak pernah melihat Akeno seimut ini sebelumnya."

---

Akeno (membuka matanya, menatap Hana dengan tatapan tajam):

"Apa kau bilang barusan?"

---

Hana (mengangkat tangan tanda menyerah, masih tersenyum):

"Tidak, tidak ada apa-apa~"

---

Setelah beberapa saat, Akeno akhirnya melepas genggamannya pada Aryuu, dan suasana menjadi jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya.

Namun, Aryuu tetap merasa lelah, bukan karena fisiknya, tetapi karena situasi ini terlalu absurd bahkan untuk dirinya.

---

Aryuu (menghela napas, menatap langit-langit dengan ekspresi datar):

"Jadi... semua kekacauan ini hanya karena kau ingin dielus?"

---

Akeno (mengalihkan pandangan, masih dengan wajah sedikit merah):

"Aku tidak mau mengakuinya, tapi... mungkin iya."

---

Hana (tertawa kecil, menyenggol Aryuu dengan sikunya):

"Hei, setidaknya sekarang kau tahu cara menenangkan Akeno. Kalau dia mengamuk lagi, tinggal elus saja kepalanya~"

---

Aryuu (memijat pelipisnya, terlihat benar-benar lelah):

"Tidak mungkin aku ingin mengalami ini lagi."

---

Setelah semua keributan ini, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke akademi seperti biasa.

Namun, Aryuu tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ini mungkin baru awal dari masalah lain yang akan datang.

Setelah keributan besar yang disebabkan oleh Akeno, akademi akhirnya kembali dalam keadaan normal—atau setidaknya begitulah yang Aryuu pikirkan.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Langkah kaki yang mantap dan penuh wibawa terdengar dari ujung koridor.

Bukan hanya satu, tetapi dua orang yang mendekati tempat kejadian.

Suasana tiba-tiba menjadi lebih serius.

---

Kedatangan Ketua Kelompok Pengawas Akademi

Seorang wanita dengan rambut putih panjang melangkah dengan anggun.

Wajahnya tenang dan berwibawa, sorot matanya menunjukkan kecerdasan dan ketegasan.

Dia mengenakan seragam akademi dengan emblem khusus, menandakan bahwa dia bukan siswa biasa.

Di belakangnya, seorang pria muda dengan tubuh lebih tinggi darinya berjalan dengan ekspresi sedikit kesal.

Dia memiliki postur yang tegap, seperti seorang penjaga yang selalu waspada.

Tanpa banyak bicara, keduanya berhenti di hadapan Aryuu, Akeno, dan Hana.

---

???:

"Akeno, kau membuat keributan lagi?"

---

Akeno (tersentak, menoleh dengan wajah sedikit canggung):

"E-Ellen...?!"

---

Wanita berambut putih itu adalah Ellen, ketua dari Kelompok Pengawas Akademi, kelompok elit yang bertugas menjaga ketertiban di akademi.

Dan pria di belakangnya adalah Barons, pengawal pribadi Ellen yang dikirim oleh keluarganya untuk melindunginya.

---

Ellen (menatap Akeno dengan lembut, tetapi tetap tegas):

"Aku tidak menyangka anggota senior kelompok pengawas sepertimu akan bertindak sembrono seperti ini."

---

Akeno (tertawa kecil, mencoba menghindari tatapan Ellen):

"Ehehe... itu hanya kesalahpahaman kecil. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan~"

---

Barons (menatap Aryuu dengan tajam, bersedekap):

"Kau. Siswa kelas C."

---

Aryuu memandang Barons dengan ekspresi datar.

Dia sudah bisa menebak bahwa dirinya akan disalahkan lagi, seperti biasa.

---

Aryuu (menghela napas, menatap Barons dengan malas):

"Aku bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini akan pergi."

---

Barons (mengerutkan dahi, sedikit geram):

"Kau membuat kekacauan di akademi, dan sekarang kau bersikap tidak sopan?"

---

Aryuu (menatap Ellen, lalu kembali menatap Barons):

"Kau berbicara seolah aku yang memulai masalah ini. Padahal aku hanya korban di sini."

---

Akeno (mendadak panik, melambaikan tangannya):

"T-tunggu! Jangan salah paham! Ini memang kesalahanku!"

---

Hana (mengangguk, mencoba mendukung Aryuu):

"Benar! Aryuu hanya menjadi korban! Ini semua hanya salah paham yang diperbesar!"

---

Ellen menghela napas panjang, lalu menatap Aryuu dengan penuh rasa ingin tahu.

Dia sudah mendengar banyak tentang siswa kelas C yang mampu mengalahkan siswa tingkat A di tes sebelumnya.

Dan sekarang, dia melihat sendiri bagaimana Aryuu bisa bertahan dari amukan Akeno tanpa cedera serius.

---

Ellen (tersenyum kecil, berbicara dengan nada lembut tetapi berwibawa):

"Jadi, kau Aryuu? Aku sudah mendengar namamu beberapa kali sebelumnya."

---

Aryuu (mengangkat alis, sedikit penasaran):

"Oh? Aku tidak tahu kalau aku cukup terkenal hingga membuat Ketua Pengawas Akademi memperhatikanku."

---

Ellen (tertawa kecil):

"Tentu saja. Jarang sekali ada siswa kelas C yang memiliki reputasi seperti dirimu."

---

Barons (mendecak kesal, masih menatap Aryuu dengan tidak suka):

"Reputasi atau tidak, tetap saja dia bagian dari masalah ini. Seharusnya dia dihukum juga."

---

Aryuu (menghela napas panjang, mengangkat bahu):

"Ya ampun... sudah kuduga akan berakhir seperti ini."

---

Keputusan Ellen

Ellen tertawa kecil, lalu melambaikan tangannya dengan anggun.

---

Ellen (dengan suara lembut tetapi tegas):

"Tidak perlu menghukum siapa pun. Aku sudah memahami situasinya."

---

Akeno (terkejut, menatap Ellen dengan bingung):

"Ehh? Jadi... aku juga tidak dihukum?"

---

Ellen (tersenyum lembut, tetapi tajam):

"Aku tidak bilang begitu."

---

Akeno (langsung merinding):

"Uh-oh..."

---

Ellen memandang Akeno dengan tatapan serius.

---

Ellen:

"Sebagai anggota senior Kelompok Pengawas Akademi, seharusnya kau menjadi contoh bagi siswa lain. Karena itu, kau akan mendapat tugas tambahan selama sebulan ke depan."

---

Akeno (mengeluh, merajuk seperti anak kecil):

"Ehhh?! Tapi...!"

---

Ellen (tersenyum tenang, tetapi aura otoritasnya meningkat):

"Tidak ada tapi-tapian."

---

Akeno (mengembungkan pipinya, mendecak kesal):

"Ugh... baiklah..."

---

Aryuu dan Hana hanya bisa saling pandang dan menahan tawa melihat Akeno yang biasanya berwibawa, kini malah terlihat seperti anak kecil yang sedang dihukum oleh orang tua.

Barons masih menatap Aryuu dengan waspada, tetapi dia tidak mengatakan apa pun lagi.

Ellen mengangguk puas, lalu berbalik untuk pergi.

---

Ellen (tersenyum kecil, sebelum pergi):

"Jangan buat masalah lagi, Akeno. Dan Aryuu... aku akan terus mengawasi perkembanganmu."

---

Setelah mereka pergi, Aryuu akhirnya bisa menghela napas panjang.

Namun, di dalam hatinya, dia tahu... ini bukanlah akhir dari perhatian yang akan ia dapatkan di akademi.

---

Bersambung ke Bab 23...

RECENTLY UPDATES
Read The Devouring Dragon
FantasyActionAdventure
Read Pampered Poisonous Royal Wife
RomanceShoujoHistorical