©NovelBuddy
Aryuu the unknowable god-Chapter 18: Bab 17 - Nama yang Terlupakan & Konfrontasi yang Tak Terhindarkan---
Chapter 18 - Bab 17 - Nama yang Terlupakan & Konfrontasi yang Tak Terhindarkan---
"Namaku..."
Suara berat dan dingin dari familiar Lucius bergema di arena yang masih dipenuhi sisa tekanan dari bentrokan mereka.
Semua orang menahan napas, menunggu kelanjutan kata-kata itu.
Namun...
Dia hanya diam.
Aku menatapnya tajam.
Agnithantos juga tidak berkedip, jelas dia masih ingin bertarung.
---
Lucius: (berdiri santai, bersuara malas)
"Dia tidak akan memberitahumu."
Aku mengalihkan pandangan ke Lucius.
Matanya yang setengah tertutup memancarkan rasa bosan.
Namun, aku tahu ada sesuatu yang disembunyikannya.
---
Aryuu: (menyipitkan mata)
"Kenapa?"
Lucius mengangkat bahu dan menjawab dengan nada santai.
Lucius:
"Dia tidak punya alasan untuk memberitahu namanya pada orang sepertimu."
Agnithantos: (mendengus)
"Sombong sekali."
---
Aku menghela napas pelan.
Meski tidak puas, aku memutuskan untuk tidak memaksakan jawaban.
Setidaknya untuk sekarang.
Karena aku bisa merasakan...
> Mereka berdua bukan sekadar familiar dan tuan biasa.
---
Setelah Pertandingan – Konfrontasi di Atap
Setelah pertandingan berakhir, aku pergi ke atap akademi untuk menenangkan pikiran.
Agnithantos melayang di sampingku, masih terlihat kesal.
Agnithantos: (mendesis)
"Kita seharusnya menyelesaikan pertarungan tadi."
Aku menyandarkan punggung ke dinding dan menatap langit.
Aryuu:
"Jika kita melanjutkannya, kau tahu sendiri apa yang akan terjadi."
Agnithantos menggertakkan giginya.
Agnithantos:
"Tetap saja, dia terlalu menyebalkan."
---
Suara langkah kaki terdengar.
Aku langsung menoleh.
Di sana... Lucius berdiri dengan tangan di saku, ekspresinya tetap malas.
---
Lucius: (dengan nada datar)
"Aku sudah menduga kau akan ke sini."
Aku menyipitkan mata.
Aryuu:
"Apa maumu?"
Lucius menghela napas pelan lalu bersandar ke pagar atap.
---
Lucius:
"Kau penasaran dengan ucapanku sebelumnya, bukan?"
Aku mengerutkan kening.
> "Aku dan kau... sama?"
Aku mengingat kembali kata-kata itu.
Lucius menatapku, lalu berbicara dengan suara yang lebih serius.
Lucius:
"Kita bukanlah sesuatu yang seharusnya ada di dunia ini."
---
Aku terdiam.
Agnithantos juga tidak mengatakan apa-apa.
Lucius melanjutkan dengan nada yang sulit diartikan.
---
Lucius:
"Aku tidak ingat kapan aku mulai ada. Aku hanya... ada."
Aku memahami apa yang dia maksud.
Karena aku merasakan hal yang sama.
---
Lucius: (menatapku)
"Dan kau... juga sama."
Aku menggeleng pelan.
Aryuu:
"Tidak. Kau jauh lebih kuat dariku... dan Agnithantos."
Lucius mengerutkan alis, lalu tertawa kecil.
---
Lucius: (dengan nada sarkastik)
"Lucu sekali. Kau benar-benar berpikir seperti itu?"
Aku mengangguk.
Karena itu kenyataan.
---
Lucius: (menutup matanya sejenak, lalu berkata pelan)
"Aku tidak yakin... apakah aku benar-benar lebih kuat darimu atau tidak."
Aku terkejut mendengar itu.
Namun, sebelum aku bisa menjawab...
Lucius berbalik, lalu berjalan pergi.
---
Lucius:
"Jika kau benar-benar ingin tahu... cepat atau lambat kita pasti akan tahu jawabannya."
Aku hanya bisa diam dan memperhatikan punggungnya yang menjauh.
> Apa maksudnya?
> Dan kenapa aku merasa... ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini?
Setelah Lucius pergi, aku dan Agnithantos masih berdiri di atap.
Namun, ada satu hal yang masih menggangguku.
---
Aryuu: (bersuara pelan)
"Dia benar-benar tidak mau memberitahukan nama familiarnya."
Agnithantos menghela napas berat.
Agnithantos:
"Tapi... aku merasa aku pernah melihatnya."
Aku mengerutkan kening.
Aryuu:
"Bagaimana maksudmu?"
Agnithantos terdiam sesaat, lalu menggeleng.
Agnithantos:
"Entahlah. Hanya firasat... mungkin aku salah."
Aku melihatnya curiga.
Karena Agnithantos bukan tipe yang ragu seperti ini.
---
Malam itu...
Agnithantos tidak berbicara sama sekali.
Aku bisa merasakan dia sedang berpikir keras.
Namun, meski aku mencoba berbicara dengannya, dia tidak menjawab.
> Ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku.
---
Hari Berikutnya – Nama yang Akhirnya Terucap
Ketika pelajaran selesai, aku berjalan di koridor akademi.
Aku melihat Lucius duduk di bangku pojok, tertunduk dengan wajah malas seperti biasa.
Aku berpikir untuk tidak mengganggunya, tapi kemudian...
Dia berbicara lebih dulu.
---
Lucius:
"Aku tahu kau ingin bertanya sesuatu."
Aku berhenti dan menatapnya.
---
Aryuu:
"Siapa nama familiarmu?"
Lucius terdiam sesaat, lalu menghela napas.
---
Lucius:
"Zhelphiras."
---
Aku merasa waktu berhenti sejenak.
Nama itu...
Meskipun aku tidak mengenalnya, ada sesuatu dalam namanya yang terasa... berat.
Bahkan Agnithantos yang ada di dalam pikiranku tiba-tiba menegang.
---
Agnithantos: (melalui telepati)
"...Tidak mungkin."
Aku mengernyit.
---
Aryuu: (telepati)
"Kau mengenalnya?"
Agnithantos tidak langsung menjawab.
Aku bisa merasakan ketegangan di pikirannya.
Lalu akhirnya, dia berbicara dengan suara yang lebih serius dari biasanya.
---
Agnithantos:
"Tidak... aku tidak mengenalnya... tapi aku merasa seharusnya mengenalnya."
---
> Apa maksudnya itu?
> Seharusnya mengenalnya?
Aku menggertakkan gigi.
Lucius melihat ekspresi wajahku dan tersenyum kecil.
---
Lucius:
"Aku yakin kau penasaran, kan?"
Aku menatapnya tajam.
Aryuu:
"Siapa sebenarnya dia?"
Lucius menatapku sebentar, lalu berdiri dan berjalan pergi.
Namun sebelum pergi, dia meninggalkan satu kalimat.
---
Lucius:
"Zhelphiras bukanlah 'ada' atau 'tidak ada'... dia hanya bermanifestasi."
---
Aku terdiam.
Bahkan Agnithantos tidak bisa mengatakan apa-apa.
> Apa sebenarnya makhluk itu?
> Dan kenapa Agnithantos merasa seperti pernah melihatnya?
---
New novel chapt𝒆rs are published on ƒгeewebnovёl.com.
Hari-hari yang Terus Berjalan – Pikiran Agnithantos yang Terganggu
Sejak hari itu, Agnithantos tidak pernah bisa berhenti memikirkan Zhelphiras.
Bahkan di saat kami sedang berlatih atau berbicara biasa, aku sering melihatnya terdiam, seolah sedang mencari sesuatu dalam pikirannya.
Namun...
Dia tidak pernah memberitahuku.
---
Suatu malam, aku berbicara langsung dengannya.
Aryuu:
"Kau benar-benar tidak akan memberitahuku?"
Agnithantos terlihat frustrasi, lalu menggeleng.
---
Agnithantos:
"Bukan karena aku tidak mau... tapi aku sendiri tidak tahu."
Aku menatapnya lebih dalam.
Dia tidak berbohong.
> Agnithantos benar-benar tidak tahu... tapi di dalam pikirannya, dia merasakan ada sesuatu yang pernah hilang.
---
Aku menghela napas.
Aryuu:
"Apa kau ingin mencari tahu?"
Agnithantos terdiam.
Lalu akhirnya, dia menjawab.
---
Agnithantos:
"...Ya."
---
> Entah apa yang akan kami temukan nantinya...
> Tapi aku yakin... semakin aku menggali tentang Zhelphiras, semakin banyak hal yang akan berubah.
Dan perasaan itu tidak bisa hilang dari pikiranku.
---
Bersambung ke Bab 18...